Teori Segala Sesuatu, Mungkinkah ?

Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa saya hanya mengetahui fisika sebatas sebagai sains populer. Hanya sebagai penikmat konsep-konsep fisika yang tidak akan paham jika diberikan penjelasan model-model fisika secara matematis. Latar belakang saya bahkan bukan IPA. Jadi, silakan dikoreksi jika ada pernyataan-pernyataan saya di bawah ini yang menyalahi konsep dan istilah fisika yang sebenarnya.

***

Fisika – seperti yang tertulis dalam wikipedia – adalah ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Ini berarti fisika mempelajari mulai dari partikel-partikel mendasar yang membentuk segala sesuatu sampai mempelajari alam semesta itu sendiri secara keseluruhan. Segala sesuatu dikatakan selalu terikat oleh hukum-hukum fisika, termasuk makhluk hidup yang didalamnya mencakup kita, ya, manusia.

Bagi mereka yang tidak mengakui eksistensi oknum ilahiah (ateis), terutama para fisikawan, sepertinya mereka hanya mengakui satu dunia, yakni dunia fisik. Seluruh kejadian adalah kejadian fisik, termasuk kehidupan makhluk hidup. Kita tahu bahwa tumbuhan, hewan, manusia, monera, protista, jamur, virus, semuanya dalam tataran atom tidak ada bedanya dengan arang, batu, rumah, meja saya, bungkus permen, dsb.  Jadi, bukankah jika kita sudah mengetahui bagaimana interaksi-interaksi atom sampai partikel subatomik, kita akan bisa memprediksi perilaku dari sesuatu yang disusun dari atom-atom tersebut?

Kenyataannya, sampai saat ini para ilmuwan masih belum dapat menjelaskan kerja otak secara pasti, bahkan sulit untuk mendefinisikan apa itu “kesadaran”. Well, jika memang hanya ada dunia fisik, maka kesadaran kita juga hanyalah bagian dari proses fisik itu sendiri. Kita seperti layaknya fungsi matematis yang mengubah input-input dari panca indera kita, memproses berdasarkan pengalaman-pengalaman kita sebelumnya, lalu keluar sebagai output berupa tindakan, ucapan, atau, pikiran. So, apa spesialnya kita? Anda dan saya pada kenyataannya adalah tidak ada. Kita merupakan sebuah proses dalam alam semesta, dan bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya menulis kalimat-kalimat ini karena sel-sel saraf dalam otak saya sedang berproses sedemikian rupa, dan pada dasarnya itu hanya tersusun dari interaksi partikel-partikel subatomik. Nah !

Kembali ke fisika.

Salah satu minat para fisikawan sekarang ini adalah menemukan Theory of Everything – Teori Segala Sesuatu, suatu impian dimana kita dapat menjelaskan seluruh komponen alam semesata (meliputi partikel, energi, dan dimensi) dalam satu teori tunggal. Jika teori ini telah dapat diformulasikan dalam sebuah persamaan, konsekuensinya adalah segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta akan mampu diprediksi (tentunya jika kita mengetahui seluruh parameter yg berkaitan). Bukan hanya orbit planet, evolusi bintang, kecepatan jatuh bola basket, maupun frekuensi suara saja yang bisa diprediksi, tetapi juga kalimat apa yang akan anda ucapkan, apa yang akan anda lakukan, bagaimana interaksi yang akan terjadi antara anda dan teman anda, sampai berapa indeks harga saham gabungan besok. (Tentunya yang terakhir ini hanya bisa terjadi jika kita telah paham benar susunan otak manusia sampai ke tingkat atom-atomnya).

Baiklah, izinkan saya mengajukan pertanyaan dan menjawabnya.

Mungkinkah Teori Segala Sesuatu Terwujud?

Menurut saya, mungkin saja.

Lantas, setelah ada teori ini, apakah kita bisa memprediksi segala setuatu yang terjadi?

Nah, di sini saya akan menjawab : tidak bisa.

Alasannya, pertama, karena saya adalah orang yang beriman, dan saya meyakini hal-hal yang ghaib yang tidak akan diketahui manusia.

Kedua, walaupun ada teori ini, untuk memprediksikan segala sesuatu maka kita juga harus mengetahui seluruh parameter yang akan berpengaruh terhadap sesuatu tadi. Contohnya saja, kita sampai saat ini tidak bisa memprediksi cuaca esok hari, suatu hal yang tampak sepele jika dibandingkan kemampuan kita memprediksi gerhana matahari sampai ketepatan detik. Apa yang terjadi? Bukankah teori-teori yang berkaitan dengan cuaca sudah ada, seperti tekanan, teori tentang suhu,dsb ? Jawabannya, atmosfer kita adalah sistem yang luar biasa kompleks, dan untuk mengetahui jalannya cuaca di atmosfer kita ini, kita harus mengetahui setiap initial condition dari segala sesuatu yang mempengaruhi cuaca itu sendiri. Sebuah video di youtube yang pernah saya tonton (saya lupa judulnya :D) bahkan mengatakan bahwa kita harus mengetahui posisi seluruh atom-atom di atmosfer kita dalam suatu waktu tertentu jika kita ingin memprediksi cuaca esok hari dengan ketepatan 100 persen. Itu baru atmosfer, dan saya kira mekanisme kerja otak kita lebih kompleks dari atmosfer. Nah!

Sebagai penutup, mari kita berandai Teori Segala Sesuatu berhasil dirumuskan, selain itu ternyata memang benar bahwa pikiran manusia itu pada dasarnya merupakan hasil interaksi partikel-partikel subatomik di otak kita. Ini berarti bahwa memang benar alam semesta terikat oleh suatu aturan tertentu (walaupun kita tidak dapat menggunakan aturan tersebut untuk memprediksi segala sesuatu karena kompleksnya sistem seperti yang saya sebutkan sebelumnya). Dalam pencapaian kita yang seperti ini, pantaskah kita menjadikannya alasan untuk menafikkan keberadaan Tuhan?

Tidak sama sekali.

Bahkan, ini tidak bertentangan dengan keimanan kita (bagi yang beragama Islam), bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum diciptakan, termasuk apa yang kita lakukan, semua telah tertulis di kitab-Nya. Kita memiliki kehendak bebas, tetapi kehendak kita dilingkupi oleh kehendak-Nya. Tetapi, kita tidak bisa menjadikan ini sebagai alasan untuk melanggar aturan-aturan dari Allah, sebab kelak kita akan ditanya. Allahu a’lam.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s