Mengapa Saya Menjauhi Debat

Kegiatan debat kian populer di negeri ini, terutama debat kompetitif (yang sebetulnya merupakan simulasi debat). Saya pribadi pernah mengikuti kegiatan-kegiatan semacam ini ketika duduk di bangku sekolah dulu (sebagai bagian dari kegiatan belajar-mengajar), dalam kegiatan lomba, dan yang terakhir di kegiatan ospek kampus dan fakultas kemarin.

Alasan-alasan penyelenggaraan debat yang sering saya dengar adalah melatih kemampuan berargumen secara sistematis, logis, dan spontan. Ya, saya tidak bisa mengingkari hal ini. Tapi, menurut saya, kegiatan seperti ini juga memiliki beberapa dampak negatif:

  1. Debat melatih kemunafikan (maaf agak kasar) dan bertentangan dengan nilai integritas. Harap dipahami bahwa nilai integritas yang dimaksud di sini ialah “suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan  nilai dan prinsip” [1]. Ketika dilakukan debat kompetitif, posisi peserta debat biasanya (bahkan selalu, sepanjang yang saya alami) ditentukan dengan undian. Artinya, anda tidak tahu apakah anda berada pada posisi pro atau kontra terhadap mosi sampai undian keluar. Yang menjadi masalah adalah ketika kita mendapat posisi yang justru bertentangan dengan pendapat asli kita. Sebetulnya kita mendukung mosi tersebut, tapi karena undian berkata lain, ya, kita mau tidak mau harus menentangnya. Bagi saya sendiri ini jadi poin yang membuat ‘sakitnya tuh di sini’, mendustai hati kecil saya sendiri (halah!).
  2. Karena mendapat posisi yang bertentangan dengan pendapat aslinya, si peserta jadi susah untuk mendebat argumen lawan secara logis. Yang terjadi malah ngelantur kemana-mana jauh dari pokok masalah.
  3. Dalam debat, seolah olah apapun yang disampaikan oleh pihak lawan harus kita asumsikan salah, sehingga kita tidak bisa setuju dengan argumen lawan. Kalaupun kita setuju, kita tidak bisa sampaikan di dalam debat (karena nanti malah jadi musyawarah/diskusi, bukan debat). Masih ingat debat capres kemarin? Ketika Prabowo menyatakan setuju dengan apa yang disampaikan Jokowi, rasanya jadi bukan debat lagi kan?
  4. Dalam debat tidak mungkin peserta pindah posisi. Ya masak iya, di tengah-tengah debat karena merasa argumen lawan benar, kemudian tobat dan pindah posisi, bersatu, dan hidup bersama bahagia selama-lamanya.
  5. Suasana debat adalah suasana bertarung, yang bukan tidak mungkin bisa membuat emosi kita ikut terlibat. Jujur kadang ketika debat, untuk sesaat saya menjadi merasa benci dan merendahkan pihak lawan.

Masih banyak cara lain untuk melatih kemampuan berargumen selain debat. Oh iya yang saya maksudkan di sini adalah debat pro-kontra. Jadi bisa saja kan peserta bebas memilih posisinya terhadap mosi sesuai hati nuraninya, kemudian argumen-argumennya dikritisi oleh dewan juri, bukan didebat pihak lawan. Bentuk FGD (Focus Group Discussion) misalnya, juga merupakan cara lain melatih berargumen selain melalui debat.

Terakhir saya kutipkan sebuah hadits [2]

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)

————————————————————-

Pranala luar:

[1] http://sriyuliani.staff.fisip.uns.ac.id/opini/arti-penting-integritas/

[2] http://abuayaz.blogspot.co.id/2010/05/wasiat-salafush-shalih-untuk.html?m=1

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s