Mengapa Grafik Permintaan-Penawaran Tertukar Sumbunya ?

supplyand demand

(Gambar diambil dari : http://blog.jparsons.net/2011/02/why-do-economists-put-price-on-vertical.html)

Ini sebetulnya pertanyaan saya sejak lama. Hal yang sangat mengganggu pikiran saya. Baru kali ini saya sempat melakukan riset pustaka kecil-kecilan (baca: googling) untuk menjawab rasa penasaran saya selama ini. Yang mengejutkan, saya tidak mendapatkan satu jawaban pasti untuk pertanyaan saya selama ini. Yang ada justru beragam jawaban yang berbeda satu sama lain. Mari kita lihat bersama-sama.

Masalah berawal ketika di SMA dulu saya diajari hukum permintaan dan penawaran. “Jika harga naik, ceteris paribus, jumlah barang yang diminta akan turun. Jika harga naik, ceteris paribus, jumlah barang yang ditawarkan akan naik.” Kemudian dijelaskan bahwa hukum ini adalah hubungan sebab akibat, artinya, harga (sebab) mempengaruhi jumlah barang yang diminta atau ditawarkan (akibat), tidak berlaku sebaliknya. Secara matematis dilambangkan dengan:

Q=f(P)

di mana Q adalah jumlah barang yang diminta atau ditawarkan dan P adalah tingkat harga.

Di pelajaran yang lain, matematika, saya mendapat materi fungsi. y=f(x). Di mana y merupakan variabel dependen (akibat), dan x merupakan variabel independen (sebab). Dalam grafik, fungsi ini disajikan dengan sumbu. y (akibat) sebagai sumbu vertikal, x (sebab) sebagai sumbu horizontal.

Kembali lagi ke hukum permintaan-penawaran. Penyajian hukum ini dalam grafik agak nyeleneh. Lihat grafik di atas. P sebagai sebab diletakan pada sumbu vertikal dan Q sebagai akibat justru diletakkan sebagai sumbu horizontal. Tampaknya sepele, tapi ini cukup memusingkan. Misalnya untuk mencari slope/kemiringan/gradien dari fungsi y=a+bx, kita dapat dengan mudahnya mendapat nilai slope dari nilai b. Sedangkan untuk fungsi Q=a+bP, kita tidak bisa seenaknya mengatakan b menunjukkan slope dari fungsi tersebut, karena penyajian grafiknya memiliki sumbu yang tertukar. (slope yang dimaksud di sini adalah perbandingan perubahan pada sumbu vertikal terhadap perubahan pada sumbu horizontal, bukan perbandingan perubahan akibat terhadap perubahan sebab).

Masalah ini untuk beberapa waktu sudah mulai saya lupakan, namun mengganggu saya lagi ketika kemarin, pada waktu kuliah Matematika Ekonomi I seorang dosen saya berkata “Inilah akibat kedunguan para ekonom jaman dulu yang sok menggunakan matematika, padahal mereka tidak paham”. Si Pak Dosen ini sepertinya agak bercanda, tapi hal ini membuat saya semakin penasaran. Akhirnya saya googling lah masalah ini, dan ini beberapa jawabannya:

Parsons dalam blognya punya beberapa jawaban:

In microeconomics, changes in production capacity shift the supply curve and changes in tastes shift the demand curve. These are effectively quantity changes that subsequently affect prices. This makes quantity the independent variable and price the dependent variable. From this perspective, price should be on the vertical axis. If you insist that price determines quantity, but not the other way around, then you obviously don’t understand the effect of weather on agricultural output.

Komentar saya : Perubahan kapasitas produksi dan perubahan selera memang akan menggeser kurva permintaan dan penawaran yang akhirnya akan mengubah harga pasar, tapi itu kan karena perubahan faktor-faktor yang seharusnya ceteris paribus, sementara grafik permintaan-penawaran hanya berfokus pada dua variabel utama(P dan Q) dengan asumsi ceteris paribus.

Second, my guess is that economists measure so much stuff in terms of price, that it is convenient to always have price on the same axis.

Mankiw dalam blognya menulis:

The early economists may have been imagining that, in the very short run, a given quantity of goods was supplied to the market (an agricultural harvest, for example). The supply curve is then vertical, and the price adjusts to ensure that quantity demanded equals this exogenous quantity supplied. So, in this very short run, the price seems more like the dependent variable. Now, however, the choice of axes is based more on historical convention than logic.

Robert Barro (dikutip oleh Mankiw dalam blognya) menulis:

As I recall, Hicks in Value and Capital thought in terms of demand price and supply price. The demand price is how much a person was willing to pay for an additional unit of goods (starting from some initial quantity, Q). The supply price is how much a producer would have to be paid to provide an additional unit of goods. This construction–which I think comes from Marshall–makes it natural to have P on the vertical axis and Q on the horizontal.

Krugman dalam blognya menulis:

Why not switch axes? It’s a QWERTY problem: everyone has been drawing the diagram this way for more than a century, so that anyone trying to put out a textbook that did it the other way would lose a lot of potential adoptions from professors who don’t want to change their notes.

So, no error there, just a long and strange tradition.

Blaug dan Lloyd dalam bukunya Famous Figures and Diagrams in Economics menulis:

Marshall used to draw his demand and supply schedules this way because he considered price to be the dependent variable. As most early 20th century English-speaking economists got their economics from Marshall’s Principles, they followed this tradition, even though they rather took prices as the independent variable.

Komentar saya : berarti, pada awalnya, hukum permintaan-penawaran tidak dirumuskan secara matematis dalam bentuk Q=f(P).

Klein, seperti dikutip dalam blog ini, menulis:

According to Marshall, the method of diagrams should be seen as separate from the method of mathematical analysis. By the 1870s, graphs were not substitutes of equations or tables pegged, with apology at the end of a work for the mathematically illiterate; they were tools for exploring and describing phenomena that could not easily be captured by algebra, calculus or words.

Komentar saya : ooh, jadi grafik di ekonomi itu bukan sekedar alat bantu untuk menerjemahkan model matematis dalam bentuk visual, tapi grafik itu sendiri adalah pemodelannya tanpa perlus dilandasi dasar matematis

Jawaban yang cukup memuaskan saya ditulis oleh Lipsey dalam bukunya An Introduction to Postitive Economics seperti dikutip di sini :

“The axis reversal – now enshrined by nearly a century of usage – arose as follows. The analysis of the competitive market that we use today stems from Leon Walras, in whose theory quantity was the dependent variable. Graphical analysis in economics, however, was popularized by Alfred Marshall, in whose theory price was the dependent variable. Economists continue to use Walras’ theory and Marshall’s graphical representation and thus draw the diagram with the independent and dependent variables reversed – to the everlasting confusion of readers trained in other disciplines. In virtually every other graph in economics the axes are labelled conventionally, with the dependent variable on the vertical axis.”

Sementara itu, ada alternatif jawaban menarik oleh Oswald dalam blognya:

Prices do not cause quantities, nor do quantities cause prices. Both are jointly determined by the supply and demand curves.The domain of the function is the two curves, the range is the Cartesian coordinate which corresponds to a price and a quantity.

In Mathese:
f(supply, demand) = (P,Q)

Conclusion
Price should remain on the vertical axis, not because it is the dependent variable, but because it may be mistaken for the independent variable. No one thinks that quantities are causal, but some people do mistakenly think that prices are. Putting P on the vertical axis is a subtle reminder that prices don’t cause things.

Komentar saya: wowowow, menarik sekali, f(supply, demand) = (P,Q), sangat anti mainstream

Ini baru beberapa web dan blog yang saya buka, dan hasilnya sudah sangat luar biasa. Ada juga artikel yang mengulas tentang sejarah grafik permintaan-penawaran secara sangat detil di sini.

Kesimpulan saya sementara ini :

Matematika murni dan Ekonomika punya sudut pandang yang berbeda dalam menggunakan grafik, Ekonomika menggunakan grafik secara leluasa tanpa terikat pakem-pakem matematika murni.  CMIIW

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s