Rasulullah Bukan Idolaku

Jangan menilai buku dari sampulnya. Oleh karena itu, jangan berprasangka buruk dahulu dengan judul di atas.

Masalah kita, umat muslim, generasi muda khususnya, adalah sering latah dengan apa yang menjadi trend. Walaupun banyak yang mengaku anti-mainstream, nyatanya kita masih saja kita tanpa sadar ikut terbawa arus utama: arus mayoritas. Celakanya, budaya mengekor ini seringnya dilandasi taklid buta. Ikut sekedar ikut-ikutan. Masih mending jika kita mengetahui apa dan mengapa kita harus ikut sesuatu tersebut. Masalahnya jika terima mentah-mentah sesuatu itu dan kita adopsi tanpa tahu seluk beluknya. Celaka.

Hal yang akan saya sampaikan ini sebenarnya sepele dan mungkin seolah-olah saya membesar-besarkannya. Tapi ketahuilah, bagi saya pribadi, ini adalah masalah yang sangat mengganjal dan mengganggu.

Sering saya dengar orang ditanya, “Siapa yang kamu idolakan?”, “Rasulullah dong…”. Saya tahu maksud atau niat jawaban ini sangat mulia, dan tentunya kita yang muslim sudah maklum bahwa Rasulullah (S.A.W) adalah panutan dan teladan bagi kita semua. Hal yang saya permasalahkan menyangkut satu kata : idola.

Apa sebenarnya arti kata idola? Karena kita menggunakan bahasa Indonesia dan salah satu rujukan arti kata yang otoritatif di sini adalah KBBI, kita harus rujuk kembali ke KBBI:

idola/ido·la/n orang, gambar, patung, dsb yg menjadi pujaan: ia senang sekali krn penyanyi — nya tampil dl pertunjukan itu;
Mungkin banyak dari kita yang memahami idola sebagai sinonim dari favorit. Memang hal ini benar juga, tapi perhatikan apa kata KBBI di atas. Idola adalah sesuatu yang menjadi pujaan. Lantas apa itu pujaan?
puja/pu·ja/n upacara penghormatan kpd dewa-dewa (berhala dsb);
pujaan/pu·ja·an/n1 sesuatu atau orang yg dipuja(-puja); 2 sesuatu yg dipakai untuk memuja: api ~; dupa ~; tari-tarian ~;3 hasil memuja: panah ~;~ hati buah hati; kekasih: anakku, ~ hatiku!;
Itu kata KBBI lho, bukan kata saya sendiri. Dari situ kita bisa lihat bahwa pujaan erat maknanya dengan sesembahan. Mari kita kembali lagi ke kalimat “Rasulullah (S.A.W) adalah idolaku” secara leksikal dapat diartikan “Rasulullah (S.A.W) adalah sesuatu yang kupuja;kusembah (naudzubillah min dzalik)”. Padahal kita tahu, satu-satunya dzat yang berhak disembah adalah Allah Azza wa Jalla. Penyimpangan terhadap hal ini berarti kesyirikan, dan kesyirikan adalah dosa terberat yang tak akan diampuni sebelum pelakunya bertaubat.
Bagi yang masih penasaran dengan kata ‘idola’, mari kita telusuri lebih jauh kata ini. Kata ‘idola’ mungkin kata serapan dari bahasa Inggris ‘idol’. Mari kita tengok arti kata ini dari kamus Oxford:

Definition of idol in English:

noun

1An image or representation of a god used as an object of worship.
1.1A person or thing that is greatly admired, loved, or revered: a soccer idol
Ada dua arti di sini dan lagi-lagi arti pertama adalah berhala.
Nah, sekarang, setelah tahu hal ini, alangkah baiknya jika kita ditanya “Siapa idolamu?” maka jawab saja “sorry bro, aku nggak punya idola.”
Sekali lagi, mungkin saya terkesan membesar-besarkan masalah ini. Namun, poin yang ingin saya sampaikan yaitu bahwa ilmu itu penting. Ketidaktahuan kita pada hal-hal kecil dapat berakibat fatal. Maka semakin luas perbendaharaan ilmu kita, ceteris paribus (biar kelihatan kalau mahasiswa ilmu ekonomi), akan semakin kecil peluang kita berbuat kesalahan.
Wallahu a’lam.
Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s