Sudahkah Kita Menerapkan Ekonomi Islam dalam Kehidupan Kita?

Tulisan ini sebetulnya adalah esai yang saya buat untuk syarat mendaftar salah satu organisasi di kampus saya kemarin. Esai ini adalah esai ‘Bandung Bandawasa’ yang dikerjakan bahkan tidak sampai satu malam, tetapi hanya beberapa jam. Daripada hanya menjadi kumpulan digit biner di harddisk saya, lebih baik saya upload di sini agar bisa di baca orang lain.


Sudah sekitar separuh abad istilah ekonomi Islam mencuat dan menunjukkan perkembangannya. Sistem ini telah merambah ke berbagai negara. Bukan hanya negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas muslim, tetapi juga sampai ke negara-negara barat yang notabene kaum muslim menjadi minoritas di sana. Di Indonesia sendiri kini paradigma perekonomian baru ini kian digandrungi, terbukti dengan banyaknya industri-industri jasa keuangan yang mengunakan label syariah pada namanya. Dengan adanya hal-hal ini kita patut bertanya apa dan bagaimana ekonomi Islam itu serta sudahkah kita menerapkannya?

Berbicara mengenai ekonomi Islam tidak bisa dilepaskan dari berbicara tentang Islam itu sendiri. Islam diturunkan dengan syariat-syariat atau aturan-aturan dalam kehidupan manusia. Salah satu yang diatur dalam syariat adalah hubungan sesama manusia atau muamalah. Di sisi yang lain, ekonomi muncul karena dalam pemenuhan kebutuhannya manusia saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, ekonomi Islam tentu saja termasuk dalam ranah muamalah.

Satu kaidah penting yang harus diingat dalam muamalah yaitu bahwa hukum asal muamalah adalah halal (boleh) sampai ada dalil yang mengharamkannya atau melarangnya [1]. Kaidah ini disepakati oleh mayoritas ulama terutama imam empat madzhab. Konsekuensi logis dari kaidah ini yaitu bahwa bentuk-bentuk kegiatan dalam perekonomian dapat menjadi sangat fleksibel dan dinamis dengan adanya inovasi-inovasi baru selama tidak melanggar larangan-larangan syariat. Lantas hal-hal apa saja yang di larang? Larangan-larangan yang sering dilanggar selama ini terutama terkait riba’, gharar (ketidakjelasan), serta jual-beli barang haram.

Dari kaidah muamalah di atas, kita bisa menarik kesimpulan sementara bahwa ekonomi Islam adalah ekonomi yang tidak melanggar syariat. Perlu digarisbawahi di sini adalah frase ‘tidak melanggar syariat’. Maka, se-Islami apapun nama industri jasa keuangan atau nama produk jasanya, jika ternyata masih melanggar syariat, ia tidak sesuai syariat lagi dan menyalahi ekonomi Islam. Meskipun memakai embel-embel ‘syariat’, meskipun nama produknya wadiah atau mudharabah, jika ternyata dalam praktiknya masih menerapkan riba, tentu syariatnya hanya sebatas nama.

Seperti juga sistem ekonomi lain seperti kapitalisme dan komunisme, sistem ekonomi Islam juga berbasis ideologi. Ideologi ini tentu saja berasal dari Qur’an dan Sunnah. Selain itu, setiap sistem ekonomi juga memiliki tujuan. Kapitalisme dan komunisme, dua-duanya bertujuan materialistis. Lalu bagaimana dengan sistem ekonomi Islam? Mengingat ekonomi erat kaitannya dengan perikehidupan manusia, maka kita perlu menilik tujuan hidup manusia dari perspektif Islam. Dalam Islam, tujuan hidup manusia, yakni alasan adanya manusia di dunia tidak lain dan tidak bukan semata-mata hanya untuk beribadah pada Allah[2]. Oleh karena itu, dalam setiap aspek kehidupan baik ekonomi, sosial, maupun politik senantiasa harus tidak hanya berorientasi tujuan duniawi, tetapi yang lebih utama adalah berorientasi akhirat : ibadah pada Allah.Untuk dapat beribadah secara benar, tentu saja kita harus memiliki landasan aqidah atau kepercayaan yang benar pula.

Dari uraian yang kedua ini, kita bisa menyempurnakan definisi ekonomi Islam sebagai ekonomi berorientasi utama akhirat dengan basis aqidah yang lurus serta tidak melanggar syariat. Kembali ke pertanyaan awal. Sudahkah kita menerapkan ini dalam praktik perekonomian kita sehari-hari? Jawabannya, realita masih jauh dari idealita. Praktek perbankan syariah dalam kenyataannya masih banyak melanggar ketentuan yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional MUI. Murabahah dan mudharabah hanya sekedar nama. Itu di bank yang mengklaim dirinya sebagai bank syariah. Bagaimana dengan bank konvensional serta industri jasa keuangan konvensional lain? Tentu saja telah jelas ke-tidak Islami-annya. Di luar itu, di masyarakat masih juga banyak praktik-praktik transaksi yang menyelisihi syariat seperti rentenir, gadai berbunga, jual beli hewan yang haram dikonsumsi, dan masih banyak lagi. Selain itu, dari sisi orientasi, masyarakat kita sepertinya belum sepenuhnya sadar akan tujuan ukhrawi. Masyarakat memakai produk bank syariah bukan karena menghindari riba, tetapi semata-mata karena bank syariah lebih menguntungkan.

Melihat kenyataan tersebut, sudah sepatutnya kita lebih giat menyadarkan masyarakat agar lebih melek ekonomi Islam. Selain itu, kepada pihak-pihak yang telah menggunakan nama-nama Islami perlu kita dorong agar dapat mengimplementasikan ekonomi Islam secara riil dan integral. Dengan begitu akan terwujud masyarakat ekonomi Islam yang tentu saja mendatangkan kebermanfaatan tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Wallahu a’lam.

[1] Terdapat banyak dalil yang mendasari kaidah ini, salah satu diantaranya adalah hadis berikut, “Mengapa banyak dari kaum muslimin yang menetapkan syarat-syarat yang tidak didapatkan dalam Al-Qur’an. Barangsiapa yang menetapkan syarat yang tidak ada dalam Al-Qur’an, maka dia tidak mempunyai hak sekalipun walaupun membuat seratus syarat.” (HR. Bukhari II/972 no.2579, dan Muslim II/1141 no.1504)

[2] Dalam Q.S Az-Zariat: 56 Allah berfirman yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Referensi:

  1. <http://rumaysho.com/342-untuk-apa-kita-diciptakan-di-dunia-ini.html> diakses pada 12 september 2015.
  2. <http://pengusahamuslim.com/fatwa-dsn-mui-1451/> diakses pada 12 september 2015.
  3. <https://abufawaz.wordpress.com/2011/02/07/memahami-kaidah-kaidah-dasar-dalam-bisnis/> diakses pada 12 september 2015
Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s