Bahagia Itu Letaknya di Hati

Ada dua peristiwa yang menyebabkan saya menulis posting ini.

Peristiwa yang pertama. Tadi pagi ketika kuliah Bisnis Pengantar, dosen saya bercerita tentang bagaimana sibuknya bekerja di Jakarta. Beliau mengajak kami membayangkan menjadi seorang pekerja di Jakarta. Anggaplah kalian tinggal di Depok, kerja di Sudirman (saya agak lupa). Jam kerja kalian dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Karena jauhnya jarak tempat tinggal dari tempat kerja–ditambah lagi kondisi jalan yang macet–kalian harus berangkat waktu subuh tiap hari dan pulang larut malam. Artinya, dari Senin sampai Jumat kita tidak bisa bercengkerama dengan anak (ceritanya sudah punya anak nih). Bagaimana tidak, kita berangkat waktu si anak belum bangun, pulang ketika si anak sudah tidur. Jadi hanya bisa berkomunikasi dengan anak tiap akhir pekan. Beliau lalu berkata, “Anaknya itu nanti ketika lihat mamanya bilang, ‘Hai Tante'”, saking jarang ketemu mamanya, dikira tantenya.

Selanjutnya dosen saya menjelaskan mengapa beliau lebih memilih menjadi dosen di Jogja, padahal bisa saja beliau bekerja di tempat lain–di Jakarta misalnya–dengan gaji yang lebih besar. Kata beliau, jadi dosen itu enak, apalagi kalau sudah merasa enjoy. Berangkatnya nggak terlalu pagi, pulangnya juga nggak terlalu malam. Masih bisa bersengkerama dengan anak-anak. “Kalau pulang itu saya langsung dirangkul anak saya”. “Sebelum berangkat saya juga masih sempat mandiin anak saya”. Sampai di sini saya merasa terharu, hehehe.

Peristiwa yang kedua. Tadi sore saya meminjam buku di perpustakaan. Judulnya The Future of Economics: An Islamic Perspective . karangan Umer Chapra, salah seorang ekonom Islam ternama. Ceritanya saya lagi pengen belajar ekonomi Islam.

Walaupun saya baru baca sekilas, tapi ada beberapa hal menarik yang saya tangkap. Chapra melalui buku ini mengkritik ilmu ekonomi konvensional yang katanya bebas nilai. Dalam ekonomi konvensional –terutama madzhab klasik– ditekankan akan pentingnya kebebasan individu. Bahwa individu tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Bahwa individu-individu yang hanya memikirkan kepuasannya sendiri, entah bagaimana akhirnya bisa berimplikasi pada kepuasan (kesejahteraan) masyarakat secara keseluruhan. Yang juga jadi masalah, kepuasan ini, terutama oleh penganut utilitarianisme, pemenuhannya juga hanya berkisar pada sesuatu yang material.

Konsep ekonomi yang bebas nilai semacam ini, dapat menyebabkan runtuhnya solidaritas keluarga dan sosial. Ini dapat terjadi bila apa yang diidealkan oleh konsep ekonomi klasik itu benar-benar jadi nyata. Runtuhnya keluarga dan sosial ini terjadi karena dalam berkeluarga dan bersosial itu perlu ada kesetiaan dan pengorbanan. Sedangkan kita tahu, bahwa kesetiaan dan pengorbanan itu dapat terjadi ketika kita tidak sedang menjadi homo economicus. Lihat saja, untuk mengasuh, merawat, serta mendidik anak, berapa opportunity cost yang kita korbankan? Keluarga mustahil berjalan harmonis jika anggota-anggotanya adalah orang yang selalu memikir untung-rugi dalam artian sempit.

Kita bisa melihat juga realita saat ini, bahwa di negara-negara maju ada kecenderungan perubahan pola keluarga. Di  Jepang kita bisa melihat pertumbuhan penduduk yang bisa negatif karena para wanita di sana enggan memiliki anak. Ada juga negara-negara yang membebaskan warganya mau menikah dengan jenis kelamin apa. Inilah implikasi dari kebebasan individu yang bebas nilai.

Dari hal-hal tersebut ada bebearapa hal yang bisa saya dapat.

Opportunity cost dan Homo Economicus adalah konsep yang tidak relevan untuk diterapkan secara menyeluruh di kehidupan kita, karena jika itu benar, maka mustahil masih masyarakat yang saling bergotong royong, mustahil masih ada ibu yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengasuh anaknya.

Konsep opportunity cost dan homo economicus bisa jadi benar, jika kita mengubah paradigma konsep cost dan utility. Selama ini konsep cost identik dengan satuan moneter. Di SMA kita diajari misalnya bahwa ketika kita memilih sekolah, maka biaya peluang yang kita korbankan adalah gaji dari kita bekerja yang bernilai sekian rupiah. Saya kira tidak seharusnya konsep cost dibatasi sesempit itu. Alangkah baiknya jika kita mengganti konsep ini dengan konsep happiness atau kebahagiaan.

Dengan konsep kebahagiaan ini ada hal-hal sebelumnya terlihat irasional yang kemudian bisa dipandang lebih rasional. Kenapa orang yang sudah bekerja di PT KAI dengan gaji sekian lebih memilih untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga? Bisa jadi kebahagiaan ketika menjadi ibu rumah tangga lebih besar daripada kebahagiaan ketika bekerja. Maka opportunity cost dari tingkat kebahagiaan di PT KAI adalah tingkat kebahagiaan ketika menjadi ibu rumah tangga.

Demikian pula utility tidak harus serta merta dilihat sebagai kepuasan yang timbul dari sebab-sebab material. Utility seharusnya dipandang sebagai tingkat kebahagiaan yang definisinya bisa sangat luas. Maka, orang miskin bisa jadi lebih bahagia dari orang kaya, walaupun daya beli si kaya pasti lebih tinggi dari daya beli si miskin.

Secara makro, seharusnya tingkat pertumbuhan suatu negara tidak melulu dipandang dari naiknya GDP, tetapi juga naiknya kebahagiaan penduduknya.

Akhirnya, saya kutipkan sebuah hadits

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.

(HR Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s