Fisika Kuantum, Multi-Jagad Everett, Opportuity Cost dan Ekonomika

Multi-Jagad Everet (many worlds-Everett) adalah salah satu hipotesis yang sangat menarik yang pernah saya baca. Hipotesis ini mencoba menjawab masalah fisika quantum yang membingungkan. Saya akan coba jelaskan hal ini sejauh apa yang saya pahami (bagi pembaca yang lebih paham fisika silakan mengoreksi jika ada kesalahan).

Dalam level yang sangat kecil, benda-benda bersifat aneh. Orang fisika bilang dualisme gelombang-partikel. Contohnya begini, elektron itu letaknya tidak pasti di tempat A atau B, tetapi kita hanya bisa mengatakan peluang posisi elektron tersebut. Tetapi ketika dilakukan pengukuran (gampangannya kita melihat elektron itu posisinya di mana),kita akan menemukan bahwa si elektron tadi ada pada satu tempat tertentu (katakanlah, di A).

Analoginya begini. Kita punya seekor jangkrik dalam suatu wadah tertutup. Sebelum kita buka, jangkrik tadi hidup dan juga mati (ya). Tapi ketika kita buka wadah tadi untuk melihat si jangkrik, kita hanya bisa melihat 1 keadaan, yaitu jangkriknya mati, atau hidup.

Para ilmuwan bingung kenapa dunia quantum bersifat aneh seperti ini sementara dunia yang kita rasakan–walaupun pada dasarnya tersusun dari dunia quantum yang kecil tadi–sifatnya berbeda. Contoh, kita tidak akan menemui kejadian semacam kasus jangkrik di atas, tetapi di dunia sekecil elektron, hal itu terjadi. Kita juga tidak bisa berada di dua tempat yang berlainan dalam waktu yang sama bukan?

Everett punya sebuah hipotesis ‘gila’ untuk menjawab masalah di atas. Idenya begini, setiap kita melakukan pengamatan untuk melihat posisi elektron, tercipta realitas baru. Misalnya setelah kita amati, kita dapati elektron ada di posisi A. Padahal menurut dualisme gelombang partikel, elektron seharusnya ada di A sekaligus B. Maka haruslah ada realitas baru (alam semesta baru) di mana ‘kita’ di sana menemukan bahwa elektron ada di posisi B. Gila bukan?

Dan, realitas baru itu muncul bukan hanya karena kita mengamati posisi elektron, tetapi setiap kejadian di dunia quantum akan menciptakan realitas baru. Artinya setiap saat tercipta realitas baru. Realitas baru ini juga katanya independen dan tidak terpengaruh dengan realitas yang lain. Lantas ada berapa banyak realitas saat ini? Apakah jumlahnya terhingga atau tidak? Saya belum tahu bagaimana jawabannya dalam hipotesis ini.

Mari kita melihat bagaimana implikasi hipotesis ini dalam dunia kita. Sekaligus akan mulai saya kaitkan dengan ekonomika.

Setiap saat kita dihadapkan oleh pilihan. Apakah harus makan atau main. Kalau makan pakai tangan atau sendok. Kalau pakai tangan mau kanan atau kiri, dst. Setiap pilihan kita ambil, maka otomatis pilihan lainnya tidak dapat kita lakukan. Mankiw dalam bukunya Principles of Economics menyatakan salah satu prinsip penting, “People face trade-offs”. Ketika kita memutuskan untuk menggunakan uang saku kita untuk membeli buku, kita tidak bisa menggunakannya untuk membeli burjo.

Konsekuensi dari adanya trade off adalah opportunity cost (biaya peluang). Biaya peluang adalah apa-apa yang kita korbankan ketika kita menetapkan pilihan. Lebih spesifik lagi, biaya peluang adalah alternatif terbaik yang tidak kita lakukan ketika kita melakukan sesuatu.

Konsep biaya peluang ini tercermin oleh sebuah pepatah barat “Time is money“. Ketika anda tidak melakukan apa-apa,  anda sebetulnya sedang merugi, karena sesungguhnya anda bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat. Sayangnya, menurut saya, saat ini konsep biaya peluang benar-benar terbatasi oleh money seperti kata pepatah tadi. Konsep biaya peluang yang sering diajarkan di SMA selalu dinyatakan dengan nilai rupiah yang dikorbankan seseorang. Paradigma materialistis seperti ini agaknya perlu diubah. (Baca tulisan saya tentang hal ini).

Ekonomika menggunakan asumsi bahwa manusia berperilaku rasional. Ia adalah homo economicus. Oleh karena itu, biaya peluang seharusnya selalu lebih kecil dari apa yang kita lakukan. Artinya, kita selalu memilih sesuatu yang mendatangkan manfaat paling besar secara rasio. Tapi, dalam dunia nyata, nyatanya manusia kadang tidak selalu bertindak secara rasional.

Inilah salah satu sebab ekonomika ditentang banyak disiplin ilmu lain. Sosiologi-ekonomi misalnya, menganggap bahwa rasionalitas manusia adalah variabel. Sedangkan ekonomika menggunakannya sebagai asumsi. Artinya, dalam model-model dan teori-teori ekonomika itu, manusia selalu dianggap rasional. Ekonomika dikecam sebagai ilmu yang tidak empiris gara-gara hal ini.

Kembali lagi ke multi-jagad Everett. Dalam hipotesis Everett, semua kemungkinan kejadian adalah ada. Maka, pasti ada satu realita di mana manusia benar-benar bertindak rasional tanpa kecuali. Inilah mungkin dunia yang digambarkan oleh pemodelan ekonomika.

Yah, inilah hipotesis Everett. Hipotesis yang unik dan gila. Kalau saya ditanya apakah saya mempercayai hipotesis ini, maka saya jawab, “Tidak”. hahaha. Ini kan ranah sains, ranah yang perlu pembuktian, tidak seperti agama yang harus kita imani.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s