Keraguan dan Keyakinan

IMG_20141206_184429

Ada sebuah kutipan bagus dari Shakespeare dalam sebuah karyanya, Hamlet:

Doubt thou the stars are fire;
Doubt that the sun doth move;
Doubt truth to be a liar;
But never doubt I love.

Sangat romantis, sangat mendalam, dan sangat filosofis. Walau saya tidak tahu makna dan konteks aslinya, izinkan saya untuk sedikir menafsirkan kutipan tersebut (tentunya semau saya).

Tiga baris pertama berisi perintah untuk meragukan. Meragukan apa yang kita lihat, meragukan apa yang sebelumnya kita anggap lumrah, bahkan meragukan kebenaran itu sendiri. Singkatnya, meragukan semuanya.

Tapi untuk apa? Apakah rasa ragu punya implikasi praktis dalam kehidupan kita? Jawabannya: ya.

Lihatlah sekeliling kita. Teknologi ada di mana-mana. Darimanakah ia berasal? Teknologi saat ini banyak muncul akibat perkembangan ilmu pengetahuan (sains), dan sains ditopang oleh satu sikap penting : keraguan.

Sains adalah seorang bocah kecil yang skeptis, yang sulit ditipu dengan dongeng dan takhayul. Ia juga bocah yang sangat cerewet, karena ketika diberi penjelasan tentang suatu hal, alih-alih mengangukkan kepala, ia malah bertanya, “Kok bisa gitu?”, “Kenapa?”. Dan tak pernah berhenti. Ia terus menjelajahi segala sudut ruangan meski orangtuanya melarangnya.

Keraguan juga merupakan mekanisme pertahanan diri. Ia mengajarkan kita untuk selalu waspada, tidak mudah diperdaya orang, tidak percaya kalau mama tiap hari kok minta pulsa, tidak ngikut saja kalau diajak mojok berduaan di tempat gelap, tidak gampang percaya kalau gedung sebesar WTC bisa hancur berkeping-keping ketika ditubruk pesawat, hahaha.

Lalu masuk ke baris ketiga, Doubt truth to be a liar. Mulai dari sini segalanya kacau. Atau paling tidak kita berusaha keras berpikir kembali. Apa itu kebenaran? Haruskah kita percaya pada kebenaran? Apakah ia membohongi kita? Maka dari sinilah perlu berpikir mengenai kebenaran itu sendiri. Bagaimana cara mendapatkannya. Dari manakah sumber-sumbernya.

Kita meragukan sesuatu yang kita dapat dari proses bernalar yang dilandasi keraguan. Itulah kenisbian sains.

Ditutup dengan baris terakhir yang sangat romantis. But never doubt I love. Apa yang berbeda dari baris ini dibandingkan baris-baris sebelumnya adalah bahwa ketika sebelumnya kita disuruh ragu, maka di sini sebaliknya, kita tak boleh ragu : yakin.

Seperti hanya keraguan, keyakinan punya posisi penting dalam hidup kita. Agama – berkebalikan dengan sains- dibangun atas pondasi keyakinan : iman. Agama bukan untuk kita selidiki secara empiris dan rasional, tapi cukuplah dengan diyakini (walaupun empirisme dan rasionalisme diberi tempat tersendiri dalam Agama). Kita tidak menunggu hasil riset mengenai manfaat puasa bagi tubuh untuk melaksanakannya.

Kepercayaan -yang merupakan bentuk turunan dari keyakinan- juga merupakan hal yang penting bagi kehidupan sosial manusia. Banyak hal dibangun dengan kepercayaan. Orang tidak akan meminjamkan uangnya ke orang lain jika ia tidak percaya uangnya akan kembali. Tidak akan ada yang namanya presiden RI kalau rakyat Indonesia tidak percaya pada pemimpinnya. Tidak akan ada pernikahan yang tulus jika sang istri tidak percaya suaminya bisa setia.

Maka, keraguan dan kepercayaan, keduanya tak bisa ditinggalkan. Hanya saja penting bagi kita untuk menggunakannya secara proporsional. Ada saat dimana kita harus ragu, ada saat dimana keraguan justru akan membunuh kita.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s