Sedikit Curahan Pikiran

Saya sering ditegur ibu saya ketika saya terlihat berdiam diri, menatap suatu objek, kadang sambil agak sedikit komat-kamit, ”Jangan melamun!”. Lalu saya berkilah bahwa sebenarnya saya sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Tapi saya tak sepenuhnya berbohong, memang saya sedang berpikir. Bukankah definisi melamun itu ketika pikiran kosong?

Beberapa teman kadang juga memergoki saya melakukan hal serupa. Sampai-sampai kadang ada yang awalnya ingin mengajak saya berbicara lalu menjadi segan setelah melihat keadaan saya. Memangnya saya kenapa? 

Saya sering dituduh terlalu memikirkan sesuatu untuk hal-hal yang sebetulnya tak perlu pikir panjang. Oke saya akui itu. Tapi, masalahnya, saya sulit untuk menghindari hal ini. Semacam sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan tabiat.

Berpikir (baca:melamun) sudah menjadi semacam keadaan default bagi saya. Dalam keadaan ini pula saya merasa nyaman dan menjadi diri saya. Tenggelam dalam lamunan beserta imajinasi yang berlari kesana kemari. Mengarungi lautan memori serta melakukan visualisasi. Hanya saya dan pikiran saya. Bukan,bukan, pikiran saya adalah saya. Hanya saya.

Masalahnya, apa yang saya lamunkan kadang tak memberi manfaat praktis. Dan memang saya justru jarang memikirkan masalah-masalah di kehidupan nyata untuk saya cari penyelesaiannya. Itu menyakitkan dan mencemaskan. Saya perlu mendorong diri untuk memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat.

Kebablasan berpikir ini pula yang memunculkan paranoia bagi saya. Efek berpikir serta berimajinasi pada beberapa hal berujung pada munculnya imajinasi buruk, yang entah mengapa lalu memengaruhi proses kerja tubuh fisik saya.

Lalu bagaimana?

Saya sendiri tak ingin rasa bahagia yang muncul karena berpikir itu hilang. Tentu saja. Kapan lagi bisa bahagia hanya karena berpikir? Justru kadang saya merasa makin bahagia manakala saya berbagi apa yang saya pikirkan. Problemnya ada dua. Pertama, saya agak kesulitan untuk menerjemahkan isi kepala menjadi tulisan atau bahkan sekedar kata-kata, sehingga kadang teman yang saya ajak ngobrol agak bingung dengan arah pembicaraan saya. Kedua, jarang ada orang yang mau meladeni arah omongan saya yang kesana kemari. Beberapa orang sampai titik tertentu mulai menganggap pembicaraan kami menuju arah candaan yang tak perlu dianggap serius, tetapi sebaliknya, saya justru mulai ke bagian yang saya anggap serius.

Satu problem tambahan. Saya kurang bisa berpikir secara terstruktur sehingga dalam perjalanan akan lepas dari konteks masalah awal.

Baik. Saya perlu belajar untuk berpikir secara lebih baik. Saya perlu memilah mana yang harus saya pikir dan mana yang tak perlu. Saya tak boleh merasa cemas akibat pikiran saya sendiri. Saya perlu seseorang yang bisa memahami arah pikiran saya atau setidaknya nyaman untuk saya ajak berbicara.


Maafkan atas ketidakjelasan arah tulisan ini. Terima kasih telah bersusah payah membaca sampai baris terakhir.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s