Sekedar Kebetulan?

Beberapa malam terakhir ini saya sedang sibuk memahami statistika. Bukannya tidak ada hal lain yang lebih asyik, tapi tawaran untuk menjadi asisten (baca: tukang bantu-bantu) riset di kampus mengharuskan saya belajar ilmu yang sering jadi momok ini lebih dalam. Mahasiswa tak bermodal yang biasa mendownload buku ilegal dari internet inipun akhirnya meminjam buku di perpustakaan. Buku yang tebal dan sudah agak kusut sampulnya. Di dalamnya telah banyak tetesan peluh dan darah (baca: coretan pena dan pensil) perjuangan mahasiswa sebelumnya.

Apa yang menarik dari statistika? Tidak ada. Banyak.
Perlu diketahui bahwa statistika terdiri dari dua kategori: statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berurusan dengan pengorganisasian, peringkasan, maupun penyajian data. Ini adalah ilmu statistika yang sekilas kita pelajari di bangku SMA. Selain itu, ada pula statistika inferensial, yang berurusan dengan penentuan sesuatu yang ada pada populasi dengan berdasarkan sampel tertentu.

Statistika deskriptif cukup menarik. Saya senang menyebut statistika deskriptif sebagai sumbernya funny facts. Apapun yang bisa dihitung, kita bisa menyajikannya melalui statistika deskriptif. Tahukah kalian berapa rata-rata jumlah kata per kalimat dalam novel The Hobbit? 16,3 kata. Dalam novel Twilight? Hanya 9,7 kata. (padahal The Hobbit aslinya ditujukkan untuk anak-anak. Kasihan kamu nak, kalimatnya panjang amat).

Statistika inferensial lebih menarik lagi. Dengan berpijak pada teori peluang, ia menjadi alat yang ampuh untuk menentukan apakah sesuatu kejadian terjadi semata karena kebetulan atau tidak. Apakah rata-rata tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi pada pasangan yang tidak berpacaran dibanding pasangan yang berpacaran semata murni akibat dari kebetulan ataukah memang benar-benar berbeda secara signifikan? Apakah berat badan yang turun setelah minum obat pelangsing hanyalah kebetulan ataukah memang efek dari obat tersebut?

Dengan kemampuannya ini, statistika inferensial banyak diterapkan pada bidang-bidang ilmu yang ‘tidak terlalu eksak’ seperti psikologi, kedokteran, farmasi, maupun ilmu-ilmu sosial kuantitatif (termasuk ekonomika). Hal ini karena bidang-bidang ilmu ini berurusan dengan dunia yang penuh variabel dan sulit dikontrol. Diperlukan alat judgement yang baik, tidak sekedar pakai perasaan untuk menentukan besaran serta hubungan variabel-variabel tersebut.
Sebab, perasaan subjektif yang dimiliki manusia sangat dihindari dalam dunia sains lantaran dapat menimbulkan bias, lain halnya dengan sastra, di mana perasaan subjektif sepertinya justru menjadi penopang utamanya (Namun, statistik dapat pula digunakan untuk mempelajari sastra secara objektif).

***

Berbicara tentang kebetulan, akhir-akhir ini saya mendapati ada beberapa hal yang agak mengusik saya, bukan dalam arti yang negatif. Saya yakin hal itu bukan sekedar kebetulan. Meski begitu, saya tak mau repot menggunakan statistika untuk membuktikannya. Ini bukan penelitian. Biarlah perasaan subjektif saya yang penuh bias menjadikannya konsep yang akan selalu membayangi pikiran saya. Biarkan, karena saya merasa nyaman dengan adanya harapan yang timbul darinya.

Sekedar kebetulan ? 😀

Advertisements

Comments Off on Sekedar Kebetulan?

Filed under Uncategorized

Comments are closed.