Bahtera Yang Nyaris Karam

Beberapa bahtera memiliki catatan pelayaran memilukan, salah satu yang terburuk adalah kisah bahtera yang nyaris karam.

Aku, seorang awak kapal senior di sebuah bahtera yang hampir kandas. Bahtera yang telah mengarungi samudera lebih dari 20 tahun ini terlihat memprihatinkan. Sang nakhoda hilang selama hampir tiga tahun, bukan karena ia tenggelam ke lautan, namun karena ia pergi mengikuti kecerobohan serta egoismenya. Ia meninggalkan rekannya serta kami, tiga awak kapal.

Rekan sang nakhoda nampak bekerja keras untuk menjaga bahtera ini agar tak karam di tengah lautan. Aku kadang iba terhadapnya dan menawarkan bantuan untuk sesekali membantu memegang kemudi serta mengatur layar agar bahtera ini tetap terus berjalan. Namun ia sering menolak dan malah menyuruhku untuk melanjutkan kesibukanku mempelajari bintang dan peta lautan yang katanya kelak akan berguna untuk bahteraku sendiri di masa mendatang.

Aku, sebagai awak kapal senior telah melihat dan merasakan sendiri betapa bencana hebat telah tiga kali menerjang bahtera ini. Pertama, badai yang terjadi 5 tahun setelah aku bergabung memaksa kami mengubah arah haluan. Badai yang teramat dahsyat ini bahkan membuat sang nakhoda dan rekannya terpaksa meminta layar baru kepada galangan untuk mengganti layar lama yang terkoyak mengerikan. Aku masih ingat, setelah itu kami berlayar melalui perairan asing   yang amat berbeda.

Cerobohnya, akibat kelalaian nakhoda dalam mengemudikan bahteranya membuat kami dua kali lagi menghadapi malapetaka. Pada bencana terakhir, sang nakhoda melakukan kesalahan besar karena ia diam-diam melepaskan kayu-kayu pada buritan lalu memberikannya pada sebuah galangan lain. Aku, yang pertama menyadari itu, memperingatkan nakhoda sebelum tindakannya diketahui sang rekan. Sakit rasanya menyimpan rahasia. Apalagi itu jelas-jelas berhubungan erat dengan kelangsungan pelayaran ini. Aku tetap diam, yakin bahwa sang nakhoda telah menyadari kesalahannya.

Malang. Sang nakhoda ternyata tak menghentikan tindakannya, dan kali ini diketahui tidak hanya oleh sang rekan, namun pula oleh beberapa galangan. Aku merasa lemas untuk sesaat, lalu marah. Namun apalah arti teriakan amarah yang terkumandang jika batu karang tetap diam?

Kini sang nakhoda pergi. Rekannya telah memutuskan bahwa ia harus mulai mengambil alih kemudi jika ingin bahtera ini  tak kandas ditelan lautan. Aku tak tahu berapa lama lagi sang nakhoda secara resmi tak boleh menumpangi lagi bahtera ini. Aku hanya berharap dapat membantu sang rekan nakhoda, serta menemani dua awak kapal lainnya.

Aku kadang merasa iri ketika di tengah pelayaran kami berpapasan dengan bahtera lain yang tampak megah dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi serta layar-layarnya yang terkembang indah bersama angin lautan. Namun aku sadar, setiap bahtera pastilah pernah menghadapi badai. Aku menghargai mereka yang dapat melewatinya.

Dalam catatan pelayaran ini aku menulis, sembari mempelajari peta bintang dan lautan. Agar aku dapat mengambil hikmah dari perjalanan yang dahulu. Agar kelak bahteraku tak kandas ditelan kelamnya palung yang gelap dan mencekam.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s