Hujan : Imaji

Reo terbangun dengan muka sedikit pucat. “Tidak mungkin. Ini terlalu mustahil,” gumamnya lirih. Ia menoleh ke jam dinding yang ia letakkan di atas meja belajarnya yang berantakan. Setelah beberapa saat matanya mulai terbiasa dengan suasana gelap kamarnya. Pukul dua dini hari. Ia merebahkan dirinya kembali sambil memandang cicak yang berkeliaran di langit-langit sambil mencoba mengingat mimpinya tadi.

***

“Aku hanya ingin membantumu. Percayalah, aku sama sekali tidak punya niat jahat.” Sang hujan yang tampak menakutkan berbicara dengan suara yang pelan namun dalam.
“Jangan berdusta! Aku lebih pintar daripada apa yang kau kira. Aku sudah tahu semua muslihat yang kau sembunyikan.” Reo dengan perasaan marah bercampur takut beradu mulut dengan makhluk besar itu.

Badan Reo terasa kaku. Ia membeku seperti es. Meski demikian ia tak sedikitpun terpalingkan perhatiannya dari suara-suara serta kabut yang mengelilinginya. Ia tak tahu persis sebenarnya di manakah dirinya saat ini. Hal terakhir yang ia ingat adalah tumpukan buku di depan wajahnya serta sepotong roti yang belum ia habiskan.

Ini bukan kali pertama Reo bertemu dengan sang hujan. Mungkin sudah ribuan kali ia berpapasan dengannya, dan setiap pertemuan adalah saat-saat yang menyakitkan. Dendam yang Reo simpan kepada hujan menambah perih yang ia rasakan setiap ia menjumpainya. Reo yakin bahwa hujan sebenarnya adalah jelmaan dari virus yang pernah dipelajarinya  di bangku sekolah. Apalagi, dugaannya diperkuat dengan himbauan para orangtua yang gemar melarang anak-anaknya bermain dengan hujan.

“Dengar, Reo. Aku telah lama ingin menyampaikan hal ini, namun aku selalu ragu kau akan menerimanya.” Sang hujan kembali berbicara memutus keheningan yang telah berlangsung agak lama.

“Sudah kukatakan, aku muak dengan semua omong kosongmu!” Reo berteriak keras. Setiap patah kata yang diutarakan sang hujan hanya menambah rasa dendam di hatinya.

“Baik. Baik. Aku hanya ingin mengatakan..”, sang hujan berhenti sejenak. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku memiliki solusi dari persamaan yang belum kau tuntaskan.”

Reo tiba-tiba tersentak. Bahunya sedikit gemetar dan lidahnya terasa kaku. Persamaan itu. Persamaan yang belum ia tuntaskan dan bahkan ia yakin tak akan menuntaskannya. Sebuah usahanya untuk menjelaskan secara matematis hakikat dari kebahagiaan. Menjelaskan kebahagiaan ideal dalam sebuah persamaan yang indah dan elegan. Usahanya selama bertahun-tahun yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia yakin tak seorangpun tahu akan usahanya yang agak sia-sia itu. Ia yakin bahkan cicak di kamarnya tak akan mengetahuinya.

Keyakinan itu runtuh begitu saja saat mendengar sang hujan mengatakannya. Bagaimana mungkin? Apa maksud sang hujan mengungkit-ungkit hal ini? Sejenak ia merasa sedikit bahagia, berharap bahwa ini adalah secercah harapan untuk benar-benar menuntaskan persamaannya. Namun, rasa dendam terhadap sang hujan yang masih pekat membuatnya berpikir dua kali.

“Darimana kau tahu tentang persamaan itu?” tanya Reo pada sang hujan.

“Kisahnya sangat panjang. Reo, aku khawatir rasa dendam akan mencegahmu dari mengetahui kebenaran. Aku tak akan berbicara lebih jauh lagi. Pergi dan temuilah beruang merah muda. Ia akan menjelaskan semuanya,” jawab sang hujan.

“Tunggu dulu, jangan coba mengelabuhiku lagi. Siapa pula beruang..” Belum selesai Reo berujar, ia diselimuti kilatan cahaya. Tiba-tiba saja ia berada di tempat yang sama sekali berbeda. Sebuah lorong dengan pintu-pintu di sisi kiri dan kanannya.

Reo yang belum sepenuhnya paham apa yang terjadi kini berjalan pelan menyusuri lorong itu. Tempat yang aneh, gumamnya dalam hati. Ia memperhatikan satu persatu pintu-pintu di lorong itu. Semakin ia memperhatikan, ia sadar bahwa pintu-pintu itu masing-masing memiliki ukiran berbeda. Pada pintu ke sembilan yang ia lewati, terukir sebuah tulisan: ‘Beruang Merah Muda’.

“Inikah yang dimaksud sang hujan tadi?” Reo terdiam sejenak, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah sang hujan berusaha menjebaknya? Benarkah ia mau membantu?

Tidak ada salahnya mencoba. Entah energi apa yang mendorongnya, akhirnya ia memutar gerendel pintu besar itu dan membukanya. Pelan-pelan ia mendorongnya dan sedikit mengintip ke dalam.

Sebuah ruangan yang cukup besar, dengan dua sofa di tengahnya. Di salah satu sofa itu ada sesosok boneka beruang merah muda yang terlihat sedang duduk nyaman. Tangan beruang itu memegang cangkir besar. Reo merasa geli melihat makhluk itu, bahkan ia hampir tertawa. Namun rasa gelinya itu tiba-tiba hilang ketika beruang menoleh kepadanya. Entah mengapa, wajah makhluk merah muda ini tampak bijaksana.

“Masuklah Reo. Aku sudah menunggumu. Sini duduklah,” Ujar beruang yang ternyata suaranya sangat dalam, hampir seperti suara sang hujan.

Tanpa rasa ragu lagi akhirnya Reo melangkah masuk. Dengan langkah lebar ia segera merebahkan diri di sofa besar tepat di depan beruang. Secangkir cokelat panas disuguhkan beruang kepadanya. “Aku tahu kau tidak suka kopi,” kata beruang.

“Seperti kau lihat sendiri, aku adalah beruang merah muda,” beruang mengawali pembicaraan.

“Aku adalah sahabat sang hujan, dan begitulah kenyataannya. Kami memiliki cita-cita yang sama. Hanya saja kami memiliki cara, dan mungkin penampilan yang sedikit berbeda,” beruang sedikit terkekeh.

“Kau tahu, hujan kadang menakutimu, atau bahkan selalu. Sementara aku, siapa yang tak gemas dengan penampilanku? Mana ada anak kecil yang takut dengan beruang merah muda?” Kali ini beruang tertawa lebar. Reo lalu menyadari bahwa boneka beruang ternyata mempunyai gigi.

“Tunggu dulu, ini semua membuatku bingung,” sela Reo.

“Baik. Aku akan serius,” beruang menyesap cokelat panasnya lalu menarik napas dalam.

“Baik hujan maupun diriku, selama ini memiliki sebuah tugas untuk menemani seorang manusia. Kebetulan hujan bertugas menemanimu. Meski aku yakin kau tidak pernah menyadarinya selama ini. Kau tidak pernah sendiri.”

“Hujan sering berkata kapadaku, bahwa ia tak pantas menemanimu, karena kehadirannya kadang malah menyusahkanmu. Suatu ketika aku pernah menawarinya bertukar peran, lalu aku baru sadar bahwa kau seorang laki-laki yang tidak mungkin menyimpan boneka beruang di kamarnya”. Beruang lalu tertawa geli.

“Maaf, maaf,” ujar beruang.

“Tak masalah. Ternyata kau lucu juga, ya. Jadi benar selama ini hujan tak punya niat jahat terhadapku?” sahut Reo.

“Sama sekali tidak, Reo. Kami ada bukan untuk mencelakakan kalian. Kami ada untuk memahami dan menemani kalian. Hujan memahami semua seluk-beluk hidupmu. Termasuk, tentang persamaan yang belum tuntas itu. Hujan dan aku sebetulnya telah menyelesaikannya sejak lama..”

“Bagaimana? Bagaimana penyelesaiannya?” tanya Reo tak sabar.

“Itulah masalahnya. Kami sadar bahwa persamaan ini tak akan dapat ditulis dengan bahasa matematika biasa. Struktur logika formal kalian terlalu sederhana untuk memahami persamaan ini. Aku tidak yakin persamaan ini suatu saat mampu ditulis di atas kertas. Oleh sebab itu, aku menawarimu cara lain untuk memahaminya.”

“Cara lain? Bagaimana maksudnya?”

“Sebentar, sebentar,” jawab beruang. “Ema, kemarilah”

Sesosok gadis kecil berambut ikal dengan mata berbinar tiba-tiba memasuki ruangan itu.

“Ada apa beruang?” tanya gadis itu.

“Antarlah kakak ini ke ruang persepsi,” pinta beruang.

“Baiklah beruang gendut,” jawab si gadis kecil sambil tersenyum.

“Nah, Reo. Sebentar lagi kau akan mengetahui penyelesaian dari persamaan itu. Aku tidak bisa mengantarmu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Gadis kecil ini akan menunjukkan tempatnya. Oh, dan ini mungkin pertemuan pertama dan terakhir kita, jadi jangan lupakan apa yang kau dapatkan,” beruang berkata sambil membenarkan posisi duduknya.

“Meskipun aku belum paham apa arti semua ini, aku harus berterima kasih padamu beruang” ujar Reo.

Si gadis kecil memberi isyarat pada Reo untuk mengikutinya. Mereka menuju pintu lain di sudut ruang itu. Si gadis kecil membukakan pintunya.

“Dan jangan merasa dendam lagi dengan hujan,” beruang berkata tanpa menoleh.

“Aku akan melakukannya,” balas Reo.

Reo dan si gadis kecil memasuki pintu itu. Sebuah lorong lain. Mereka berjalan menyusurinya.

Langkah demi langkah, Reo sadar bahwa lorong ini lama kelamaan berubah menjadi sebuah jalan di tengah taman. Taman yang sangat luas. Ia menoleh kesana kemari untuk menyadari bahwa taman ini seolah tak punya batas.

“Beruang tadi itu temanmu ya?” tanya Reo pada gadis kecil.

“Tentu saja. Kakak sendiri punya teman?” gadis kecil balik bertanya pada Reo.

“Aku tidak yakin,” jawab Reo sambil memandangi langit.

Setelah beberapa saat berjalan, sampailah mereka pada sebuah bangunan kecil di tengah taman. Sebuah bangunan yang cukup mengerikan di tengah taman yang indah. Di pintunya tertulis dengan jelas: ‘Persepsi’.

“Silakan masuk, Kak. Aku harus kembali,” kata si gadis kecil.

“Sekali lagi, sampaikan rasa terima kasihku pada beruang temanmu itu,” ucap Reo tepat sebelum gadis kecil itu berbalik lalu berlari kecil.

Kini Reo sendirian berdiri mematung di depan pintu itu. Ia bertanya-tanya, apakah yang ada di dalamnya? Bagaimana penyelesaian persamaan yang telah membuatnya bingung bertahun-tahun itu? Haruskah ia mengetahuinya? Sejenak terlintas di pikirannya bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tak perlu diketahui. Rasa penasaran manusialah yang membuat segalanya jadi rumit. Namun, ia harap ini adalah hal yang penting untuk diketahui. Ia membuka pintu itu lalu memasukinya.

Sebuah ruangan yang gelap. Benar-benar gelap gulita. Seketika setelah ia masuk pintu itu tertutup dengan sendirinya.

Tiba-tiba ruangan menjadi terang. Lalu gambaran kehidupannya muncul di ruangan itu. Seperti sebuah film, namun ini tampak lebih nyata. Benar-benar tampak nyata. Ia tidak hanya melihatnya, ia bisa merasakannya. Setiap tangis dan tawa yang ia lihat pada sosok dirinya. Namun, secara bersamaan ia juga merasakan sesuatu yang lain. Ia melihat orang-orang di sekitarnya yang juga menangis dan tertawa. Ia bisa merasakan perasaan mereka pula.

Reo merasa melayang. Ia tidak pernah merasakan dunia dengan sudut pandang sebanyak ini. Ia merasa sedih sekaligus bahagia, dendam sekaligus iba, nyaman sekaligus sakit. Lalu tiba-tiba ia merasakan tetesan air. Hujan. Rintik yang kian lama kian melebat. Guntur dan kilat yang saling menyambar. Sampai ia tak mampu lagi melihat dengan jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Sontak tubuhnya terhempas ke bawah.

***

Reo melihat ke jam dinding itu lagi. Pukul setengah tiga dini hari. Malam yang tadi hening kini diwarnai sayup suara guntur, lalu rintik hujan.

Reo menarik napas panjang. Ia tersenyum, sadar bahwa kebahagiaan itu tergantung pada bagaimana seseorang mempersepsikannya. Pada hujan dini hari itu, Reo akhirnya bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang sederhana, dan ia tahu ia tidak sendiri.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s