Sandiasma dan Acrostic Poem

Dahulu (tepatnya sekitar dua tahun lalu) ketika masih duduk di bangku SMA, saya pernah mendapat tugas yang cukup membuat kepala pening. Menariknya, itu bukan tugas matematika atau akuntansi, tapi bahasa Jawa! Tugasnya singkat : membuat tembang macapat berisi sandiasma dengan nama kita masing-masing. Bagi Anda yang pernah membuat macapat (kecuali anda memang seorang sastrawan Jawa) pasti telah maklum bagaimana susahnya.

Untuk Anda yang mungkin belum tahu, macapat adalah puisi Jawa klasik yang dilantunkan menjadi semacam lagu. Dalam membuat macapat, ada beberapa aturan yang mesti dipenuhi, di antaranya guru gatra (jumlah baris tiap bait),  guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), dan guru lagu (vokal terakhir tiap baris). Selain itu, ada 11 tembang macapat yang masing-masing memiliki tema sendiri-sendiri. Betapa susahnya! Apalagi, kata-kata yang digunakan dalam macapat kebanyakan bukan kosakata bahasa Jawa sehari-hari, melainkan kata-kata Jawa Kuna atau minimal kata-kata yang anak muda sekarang tidak akan paham artinya.

Sandiasma sendiri adalah penulisan nama pengarang yang disisipkan dalam sebuah karangan (dalam hal ini, macapat). Penggalan suku kata dari nama pengarang dapat disisipkan -antara lain- tiap awal pupuh (kumpulan bait), tiap awal pada (bait), tiap awal baris, tiap pedhotan (penggalan baris), tiap suku kata awal dalam tiap kata pada satu baris, atau tiap akhir baris. Salah satu fungsi sandiasma sendiri, kata guru saya, adalah mencegah plagiasi karya. Mungkin teknik ini bisa dipakai pada penulisan ilmiah, hahaha.

Salah satu pujangga Jawa yang sering menggunakan sandiasma dalam karyanya adalah R.Ng Ranggawarsita, yang disebut-sebut sebagai pujangga terakhir tanah Jawa. Berbagai teknik penyisipan sandiasma digunakan olehnya. Berikut adalah beberapa contoh (dikutip dari sini):

Dalam permulaan tiap pupuh pada Serat Ajipamasa :

Rasikaning Sarkara kaèsthi                              (Pupuh Dhandhanggula)
Hasasmita widyanira                                           (Pupuh Sinom)
Dyancepu kinon ningali                                      (Pupuh Asmaradana)
Ngawu-awu ing pamuwus nguwus-uwus     (Pupuh Pucung)
la tampaning wardaya                                    (Pupuh Pangkur)
Iyeg tyas sabiyantu                                               (Pupuh Gambuh)
Rongprakara pilihen salah satunggal             (Pupuh Durma)
Gagat bangun angun-angun ing praja gung (Pupuh Megatruh)
Warnanen tanah ing sabrang                            (Pupuh Pangkur)
Sira sang prabu kalihnya                                     (Pupuh Girisa)
Talitining wong abecik                                         (Pupuh Asmaradana)

Dalam permulaan tiap baris, juga pada Serat Ajipamasa :

Rasikaning Sarkara kaèsthi
Dènnya kedah memardimardawa
Ngayawara puwarané
la-bélaning kalbu
Inukarta nis kartèng gati
Rong(ng)as rèhing ukara
Gagaranirantuk
Warta wasitaning kuna
Sinung tengran janma trus kaswarèng bumi (1791)
Talitining carita

(Kata-kata yang saya garisbahawi di atas adalah sengkalan : angka tahun yang disandikan menjadi kata-kata)

Sebagai informasi, karya sastra Jawa klasik kebanyakan ditulis dalam bentuk puisi. Bentuk prosa baru muncul belakangan. Bentuk puisi ini, salah satunya macapat, selalu memiliki aturan-aturan super njlimet yang harus diikuti. Bisa dibayangkan bagaimana harus menulis sebuah karya berisi cerita atau nasihat-nasihat yang terikat aturan-aturan semacam itu, apalagi ditambah sisipan sandiasma dan sengkalan.

Sandiasma, selain digunakan dalam karya berbentuk puisi, juga digunakan oleh Ranggawarsita dalam karangannya yang berbentuk prosa (Serat Wirid Hidayatjati):

Rongkop rukading badan, kalingan déning solah susila.Galap-gangsuling lésan, kalingan déning wiraos manis.Warni awon, kalingan déning manah sarèh. Sipat kuciwa, kalingan déning nétya sumèh. Taliti sudra, kalingan déning bèrbudi bawa-laksana.

***

Jika kita melihat sastra barat, ada hal serupa yang disebut acrostic poem, yaitu suatu karya puisi yang pada awal tiap barisnya mengandung huruf (atau rangkaian huruf) yang jika keseluruhannya digabungkan akan membentuk kata-kata, bisa berupa nama, atau pesan lain. Bedanya dengan sandiasma, sepanjang yang saya ketahui, acrostic poem tidak terbatas pada menyisipkan nama pengarang, malah kebanyakan digunakan untuk menyisipkan pesan lain.

Dalam novel sequel Alice in Wonderland, yaitu Through the Looking-Glass , karangan Lewiss Carroll (nama aslinya Charles L. Dodgson, yang juga seorang matematikawan) pada bab terakhir terdapat sebuah puisi acrostic yang mengungkapkan nama asli Alice :

A boat beneath a sunny sky,
Lingering onward dreamily
In an evening of July–

Children three that nestle near,
Eager eye and willing ear,
Pleased a simple tale to hear–

Long has paled that sunny sky:
Echoes fade and memories die.
Autumn frosts have slain July.

Still she haunts me, phantomwise,
Alice moving under skies
Never seen by waking eyes.

Children yet, the tale to hear,
Eager eye and willing ear,
Lovingly shall nestle near.

In a Wonderland they lie,
Dreaming as the days go by,
Dreaming as the summers die:

Ever drifting down the stream–
Lingering in the golden gleam–
Life, what is it but a dream?

Alice Pleasance Liddell

Bedanya lagi, sandiasma berbasis aksara jawa yang sifatnya silabik. Artinya, penggalan nama yang digunakan minimal harus satu suku kata, tidak boleh satu huruf latin saja. Sementara itu acrostic lebih fleksibel karena bisa berupa huruf, rangkaian huruf, suku kata, bahkan kata.

Jadi, bisa dibilang kalau sandiasma adalah bentuk khusus dari acrostic writing, bukankah begitu?

Sastrawan asli : Jangan asal ngomong kamu, Sa!
Saya : …(kabur)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s