Kemarin

“Kapan mau ngerjain tugasnya ini?”
“Kemarin,” jawab saya.

Mungkin itulah salah satu jawaban paling menyebalkan yang sering keluar dari mulut saya. Tak sepenuhnya bercanda sebetulnya, saya kadang hanya ingin melihat reaksi lawan bicara atas jawaban ini. Kadang jawaban itu nyeletuk begitu saja ketika hati ini sudah kesal mengetahui pekerjaan sudah tertunda lama.

Tanggapan lawan bicara juga beragam, dari yang biasa saja, membalas dengan kata-kata bijak, sampai ada seorang teman yang terdiam menatap saya cukup lama seolah ingin mengerti apa yang sebetulnya mau saya sampaikan. Apapun tanggapannya, saya menghargainya sebagai sebuah respon atas munculnya konsep yang familiar namun tiba-tiba ditempatkan di luar konteks : masa lalu.

Memangnya apa masalahnya dengan masa lalu?

Masalahnya berkaitan dengan waktu.

We are all the prisoners of time. Dalam dunia fisik ini, kita bebas sesuka hati mengarungi ruang. Maju-mundur, kiri-kanan, naik-turun. Bebas. Namun, tak ada yang bisa mengelak terhadap dimensi waktu. Memang ‘kecepatan’ kita mengarungi waktu berbeda-beda (untuk menghayati teori relativitas, film Interstellar menggambarkannya dengan sangat apik). Makin cepat kita bergerak, serta makin dekat kita dengan benda yang memiliki gravitasi, makin lambat jarum jam kita berdetak (meski dalam kehidupan sehari-hari perbedaan ini terlampau kecil untuk dapat kita rasakan). Waktu adalah hal yang subjektif. Masalahnya, berapapun ‘kecepatan’ kita, hanya ada satu arah yang bisa kita tuju : ke masa depan.

Kita adalah sebuah novel yang tengah dibaca, kita adalah frame-frame film yang tengah diputar. Namun, novel itu tak pernah dapat dibaca secara terbalik, dan film itu tak dapat di-rewind.

***
Sedikit di luar topik. Dulu ketika kecil, saya sering membayangkan apa jadinya jika waktu berhenti. Setelah lamunan demi lamunan, saya dulu berkesimpulan bahwa jika waktu berhenti lalu berjalan kembali, kita tak akan pernah menyadarinya. Jika kita adalah tokoh dalam sebuah buku cerita, kita hanya hidup tiap kali si pembaca membaca buku ini, namun kita tetap merasakan waktu berjalan secara terus menerus, kontinu tanpa putus.
***

Lalu, inilah bagian paling mencengangkan : kita, tepatnya persepsi kita, hidup di masa lalu.
Persepsi kita terhadap dunia luar dibentuk oleh stimuli yang diterima oleh tubuh kita. Mata melihat, telinga mendengar, kulit merasa. Stimuli ini selanjutnya diteruskan ke otak kita untuk pada akhirnya diproses sebagai bagian dari kesadaran kita, dan tentunya ini butuh waktu! Artinya, apa yang kita anggap dan rasakan sebagai ‘sekarang’ sebetulnya adalah beberapa saat yang lalu (sejujurnya, hanya sepersekian detik yang lalu). Kata ‘sekarang’ tidak akan pernah dapat secara relevan digunakan dalam arti yang sebenarnya.

Kita adalah makhluk yang hidup sepersekian detik yang lalu, berjalan menumpangi panah waktu melesat ke depan dengan laju yang berbeda beda.

Masa lalu sejenak adalah kita, lalu menguap membentuk sejarah. Kemarin adalah kumpulan kisah. Tawa dan air mata sekarang jadi memori. Jadi bagian yang membentuk diri kita. Untuk apa memori ini kita gunakan? Dikenang atau dilupakan? Sebuah aib yang melulu menimbulkan malu atau sebuah kisah yang menyimpan beribu hikmah? Lagi-lagi itu tergantung persepsi.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s