Indeks Senyum Masyarakat

When a chef prepares a delicious meal and sells it at his restaurant, the value of that meal is part of GDP. But if the chef prepares the same meal for his family, the value he has added to the raw ingredients is left out of GDP. Similarly, child care provided in day-care centers is part of GDP, whereas child care by parents at home is not. Volunteer work also contributes to the well-being of those in society, but GDP does not reflect these contributions.

-Gregory Mankiw, dalam Principles of Economics

Menikah memang secara logis akan menurunkan pendapatan nasional, terutama dalam sistem ekonomi pasar. Produksi barang dan jasa yang sebelumnya dialokasikan dengan cara jual beli akan berubah setelah dua orang menikah. Contoh yang diberikan oleh Mankiw di atas sudah sangat jelas. Seseorang koki yang menjual jasa keahlian memasaknya di sebuah restoran tentu pendapatannya masuk dalam perhitungan pendapatan nasional. Lalu katakanlah salah seorang pelanggannya ia pinang jadi istrinya. Apa iya ketika ia masak di rumah buat istrinya ia harus digaji? Tentu tidak.

Tidak hanya diakibatkan oleh menikah, seluruh barang dan jasa yang dialokasikan di luar mekanisme pasar (artinya, barangnya tidak diperjualbelikan, jasanya tidak disewakan) juga tidak akan dihitung dalam pendapatan nasional. Konsekuensinya adalah, makin besar porsi pengalokasian barang dan jasa di luar pasar dalam suatu negara, makin tidak akurat pula pendapatan nasional dijadikan sebagai indikator kesejahteraan. Di desa-desa, masih banyak tradisi sambatan ketika seseorang punya hajat, katakanlah membangun rumah. Bayangkan semua orang di suatu negara membangun rumah secara sambatan, dibantu tetangga-tetangganya, bisa jadi rumah-rumah di negara tersebut bagus-bagus, padahal jika dilihat pendapatan nasional dari pekerja konstruksi bangunan besarnya nol!

Di negara yang masih banyak masyarakatnya hidup dalam perekonomian tradisional semacam Indonesia ini, bagi saya angka pendapatan nasional tidak bisa dijadikan indikator pembangunan yang terlalu diagung-agungkan. Mungkin kita perlu buat indikator sendiri?

Dosen saya pernah berkata, meskipun ada angka pendapatan nasional, inflasi, dan koefisien gini, indikator kesejahteraan sebenarnya bagi beliau adalah banyaknya senyuman. Sesederhana itu. Saya tidak tahu beliau bercanda atau tidak, tapi mungkin bisa juga tuh dibuat : Indeks Senyum Masyarakat. 🙂

Sudah, saya harus kembali ke pekerjaan saya.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s