Semua Yang Berlalu, Biarkanlah Berlalu

(((seperti hangatnya mentari…)))

stop!

Ini bukan lirik lagu (atau setidaknya, bukan itu yang saya maksudkan). Saya sedang akan membahas mengenai prinsip ekonomi.

“Let bygones, be bygones” begitulah Samuelson mengilustrasikannya, sementara Mankiw dalam Principles of Economics (yang menjadi bantal tidur wajib mahasiswa Ilmu Ekonomi semester 1 sampai 2) mengatakan bahwa “people think at the margin”. Apa maksudnya?

Seluruh pengorbanan yang telah kita lakukan tidak relevan untuk menjadi penentu keputusan di masa yang akan datang. Oke, semakin tidak jelas? Izinkan saya memberi sebuah anekdot.

***

Pada suatu sore di akhir hari yang indah, sebuah bis kota terakhir di hari itu sedang dalam perjalanan kembali ke kandangnya. Tiba-tiba di tepi jalan ada seorang siswa SMA culun, sebut saja Slamet, yang terlihat agak lesu. Sang sopir pun menghentikan laju bisnya, lalu sang kondektur bertanya pada bocah itu, “Mau pulang mas?”

“Iya”, jawab si bocah.

“Rumahnya mana?” tanya kondektur.

“Dekat Pasar Godean, Pak”, jawab si bocah.

“Ayo ikut saja”, kata kondektur.

Slamet sejenak terlihat senang, lalu seketika ekspresinya berubah. Ia sadar uangnya tinggal seribu rupiah.

“Tapi uang saya tinggal ini”, kata Slamet sambil menyodorkan selembar uang kertas bergambar Pattimura.

“Sudah, ndak apa-apa, ayo”, kata kondektur. Dan kisah ini pun berakhir dengan bahagia.

***

Pertanyaannya, tepatkah tindakan sang kondektur secara ekonomi? Jawabannya, tentu saja tepat.

Sekilas tindakannya terlihat tidak ‘ekonomis’. Pikirkan saja, Slamet membayar di bawah harga normal, padahal biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan bus, biaya solar misalnya, tetaplah sama. Mengapa Slamet tetap boleh naik?

Jawaban mudahnya: daripada tidak ada yang naik. Lagipula Slamet tetap bayar walaupun sedikit.

Jawaban yang terdengar lebih keren : karena biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk mengoperasikan bus adalah sunk cost. Tindakan kondektur tepat selama marginal revenue yang didapatkannya melebihi marginal cost.

Marginal artinya tambahan. Dengan begitu marginal revenue dalam kasus ini adalah seribu rupiah yang dibayarkan slamet. Lalu bagaimana dengan marginal cost-nya? Nol! Tidak ada biaya tambahan dalam operasional bus ketika Slamet naik.

Dalam contoh di atas, kasusnya masih berkaitan dengan dunia bisnis. Namun, prinsip ini berlaku secara umum.

Contoh klasik yang pernah saya dengar berkaitan dengan keberlanjutan sebuah hubungan. Bayangkan. Bayangkan. Seorang cowo yang berpacaran dengan seorang cewe (ya iyalah) selama bertahun-tahun. Pada akhirnya si cowo sadar bahwa selama ini si cewe berkhianat. Sakit rasanya (makanya nggak usah pacaran). Lalu si cowo bimbang ketika mau memutuskan hubungannya. “Gue selama ini udah kasih segalanya ke dia, gue udah komitmen buat dia. Dengan pengorbanan gue buat dia yang udah gak bisa dihitung lagi ini, masak iya gue harus mutusin dia?”

“Udah putusin aja”, jawab temannya yang seorang ekonom. “Pengorbanan lu buat si doi selama ini udah jadi sunk cost bro! Lu pikirin aja lah masa depan. Satu lagi ye, cintai sesuatu itu sewajarnya aja, karena lu ga bakal tau kalo pada akhirnya lu bakal dikecewain.”

Begitulah logika picik bijaksana ekonomika.

Yang perlu diingat, ini adalah prinsip. Ini adalah asumsi yang dibuat ekonom untuk membantu memahami bagaimana aktor-aktor ekonomi bertindak. Kenyataannya, orang tidaklah selalu bertindak berdasarkan prinsip ini.

Namun, prinsip ini bagi saya tetaplah punya makna tersendiri.Semua yang berlalu, biarkanlah berlalu. Jangan membanggakan kebaikan di masa lalu, jangan pula berlebihan menyesali keburukan di masa lalu, pikirkan saja apa yang bisa kita lakukan di masa depan. Intinya, ayo move on! Cyaaa cyaaaa cyaaa

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s