Model-model Cantik di Ilmu Ekonomi

Menginjak semester 3 belajar Ilmu Ekonomi, saya sudah cukup banyak melihat model-model berkeliaran. Ada yang sederhana namun elegan, ada pula yang penuh lekukan dan susah dipahami. Ada yang sudah dikenal oleh banyak anak-anak SMA, namun banyak pula yang jarang dikenal dan butuh waktu lebih lama di malam hari untuk menikmati kecantikannya.Suka tak suka, anak Ilmu Ekonomi memang harus paham dunia modeling.

Nah, sampai di sini saya harap kalian tidak berpikir aneh-aneh, karena model yang saya maksudkan adalah model ekonomika, bukan mbak-mbak model, meskipun sebenarnya banyak juga  mbak-mbak berbusana ala model di fakultas saya (plak!). Jika mbak-mbak model menuntut kita menjaga pandangan, lain halnya dengan model ekonomika. Tanpa kita pelototi, niscaya kita tak akan menemukan keindahan padanya.

Jadi, sebenarnya apa sih model ekonomika itu?

Ekonomi adalah sebuah sistem yang luar biasa kompleks. Dengan kemampuan kita sekarang ini, memahami seluruh kejadian dalam ekonomi tentu akan sangat sulit atau bahkan mustahil. Lantas apa yang bisa dilakukan?

Anak kecil suka bermain mobil-mobilan. Jika kita perhatikan, mobil-mobilan sebetulnya adalah tiruan dari mobil asli. Hanya saja, tiruan ini tidak sepenuhnya identik. Mobil-mobilan hanya meniru bagian-bagian esensial dari kenampakan mobil asli. Ia punya empat roda, punya kaca, bisa digerakkan maju-mundur, sebagaimana mobil asli.

Kok sampai mobil-mobilan?

Jadi, sebagaimana anak kecil memahami dunia kendaraan dengan mobil miniatur, ekonom berusaha memahami ekonomi yang asli dengan membuat tiruannya. Tiruan ini, seperti pula mobil miniatur, tentu tidak berisi seluruh hal dalam perekonomian yang asli. Ekonom hanya mengambil hal-hal esensial yang menjadi fokus perhatiannya. “Hal-hal” yang dimasukkan dalam “ekonomi mainan” (model) ini disebut dengan variabel endogen, sementara hal-hal yang tidak dimasukkan disebut dengan variabel eksogen.

Anak-anak bermain dengan mobil miniatur yang berujud fisik. Lantas bagaimana bentuk model ekonomika? Apakah ia juga benar-benar berujud seperti perekonomian aslinya? Tentu saja tidak. Model ekonomika hanya berupa kerangka konseptual yang berisi pernyataan-pernyataan dan aturan-aturan yang mengaitkan beberapa variabel endogen. Untuk mempermudah sekaligus menyatakannya secara formal, model ekonomika sering diungkapkan dalam bentuk persamaan matematis.

Contoh dari model ekonomika sederhana yang paling terkenal adalah model permintaan-penawaran. Model ini berusaha menjelaskan hubungan antara tingkat harga (P), jumlah barang yang bersedia dibeli konsumen (Qd) dan yang bersedia dijual oleh produsen (Qs) pada berbagai tingkat harga tersebut. Baik Qs maupun Qd nilainya dipengaruhi oleh P. Secara formal-matematis diekspresikan sebagai,

Q_s = f(P)

Q_d = f(P)

atau, jika hubungan antara P dan Qs maupun Qd kita asumsikan linear, bentuk persamaannya dapat manjadi,

Q_s=a+bP

Q_d=c+dP

Dalam perekonomian yang asli, tentu sebenarnya hubungan antarvariabel tidak sesederhana itu. Dalam contoh model di atas misalnya, sebenarnya banyak variabel lain yang memengaruhi Qs, misalnya saja selera konsumen, harga barang lain yang terkait, tingkat pendapatan konsumen, dan sebagainya. Berbagai variabel eksogen ini turut memengaruhi jumlah barang yang bersedia dibeli konsumen. Oleh sebab itu, dalam menjelaskan hubungan antarvariabel endogen, variabel eksogen diasumsikan konstan alias tidak berubah. Ekonom punya istilah sakti untuk hal ini : ceteris paribus.

Nah, sampai di sini kita tahu satu hal : model ekonomika tidak pernah realistis. Sebab, memang ia hanya simplifikasi dunia nyata. Lantas apa gunanya membuat dan mempelajari model kalau ia tidak realistis? Pertama, tanpa model, tentu saja kita tidak akan pernah melangkah lebih dekat untuk memahami dunia nyata. Lebih baik berusaha daripada diam saja bukan? Pembuatan model yang merupakan ranah teoretis akan mempermudah kita dalam menentukan hal-hal apa yang harus kita perhatikan secara empiris (memberi arah untuk melakukan penelitian). Kedua, model biasanya berisi variabel-variabel yang memang kenyataannya berhubungan erat. Ketiga, dengan mengetahui hubungan antarvaribel dalam model, kita dapat menentukan variabel mana perekonomian nyata yang analog dengan variabel tersebut lalu kita rekayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu (tentu saja tujuan yang baik). Rekayasa ini kita kenal dengan kebijakan ekonomi.

Model memang tidak pernah realistis. Namun, beberapa model lebih mendekati realita dibanding model yang lain. Mengapa? Hal ini disebabkan adanya asumsi dalam model. Asumsi adalah pernyataan-pernyataan yang dianggap benar dan menjadi dasar di mana kita membangun model di atasnya. Di matematika mungkin kita mengenal hal serupa yaitu aksioma atau postulat. Nah, makin jauh asumsi yang dipakai sebuah model dari kenyataan, makin jauh pula prediksi yang dihasilkan dari model tersebut dari dunia nyata. Model yang bagus adalah model yang tidak mensyaratkan terlalu banyak asumsi. Hal ini sesuai dengan prinsip Occam’s Razor, yang menyatakan bahwa ketika ada dua penjelasan dari satu fenomena tertentu, kita harus memilih penjelasan yang paling sederhana (yaitu yang paling sedikit menggunakan asumsi).

Nah, bagi saya sendiri, model yang ‘cantik’ adalah model yang sederhana, tidak banyak asumsi, serta telah terbukti di dunia nyata.

Oh iya, satu lagi. Di awal saya menyebutkan tentang lekukan indah pada model. Jadi, selain diekspresikan dalam bentuk persamaan, model ekonomika sangat sering dituangkan dalam bentuk grafik. Dengan begitu, analisis dapat dilakukan secara lebih visual dibantu pendekatan geometris. Untuk model-model yang persamaannya tidak linear, representasinya dalam bentuk grafik akan berupa kurva. Makin banyak kurvanya, makin banyak lekukannya, makin lama memahaminya, makin berkurang jam tidur mahasiswa. Makin meliuk-liuk, makin cantik, makin lama harus kita pandangi, makin kita tak bisa tidur. Hahaha. Sudah, sudah, saya besok harus UTS dan bertemu model.

clip_image002_thumb525

Wah ini, meliuk-liuk. (sumber)

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s