Tidak Realistis!

Beberapa waktu lalu salah seorang teman saya curhat kepada saya mengenai rasa galaunya terhadap ilmu ekonomi. Katanya, selain ia susah memahami model dan teori ekonomi, ia juga menganggapnya tidak realistis. Saya yang agak kelabakan menghadapi curhatan teman saya itu berusaha menghiburnya bahwa sampai tahap ini (semester 3) kita memang masih berkutat di ranah teori, baru di semester depan kita mulai belajar “realitas” ekonomi melalui matakuliah ekonometrika. FYI, ekonometrika secara gampangnya adalah ilmu yang berkaitan dengan “mengukur” besaran-besaran atau variabel ekonomi di dunia nyata. Ilmu ini bisa dibilang merupakan ramuan antara teori ekonomika, matematika, dan statistika. Mendengar jawaban saya itu, sepertinya teman saya bukannya terhibur tetapi malah makin masam wajahnya. Waduh! Saya sepertinya salah memilih jawaban.

Teori ekonomika, lebih tepatnya model ekonomika memang tidak ada yang realistis. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, model hanyalah penyederhanaan dari dunia nyata. Realitas sosial begitu rumit, sangat rumit. Makanya, model ekonomika hanya benar ketika variabel-variabel lain tidak berubah, alias ceteris paribus.

Tunggu dulu…

Saya jadi berpikir, kesalahan model terjadi akibat dua hal : variabel-veriabel di luar model berubah-ubah sehingga mempengaruhi variabel di dalam model, atau, model itu sendirilah yang salah! Bagaimana kita bisa membuktikannya? Yang saya pahami sampai saat ini, hal ini dapat diuji melalui regresi dengan memasukkan variabel-variabel yang dianggap mempengaruhi model untuk menjadi kontrol. Nah, masalahnya, keputusan memasukkan variabel lain-lain untuk menjadi kontrol juga tidak sembarangan, tetapi juga harus berdasar…. teori ?!

Jadi, kita mau menguji suatu teori dengan alat bantu statistika, di mana keputusan akan hal-hal apa yang akan diuji juga ditentukan berdasarkan teori. Oke, oke, saya kok jadi ingat perseteruan rasionalis vs empirisis.

Balik lagi ke masalah model ekonomika ya…

Apa masalah yang timbul dari ketidakrealistisan model ekonomika? Yang paling bermasalah tentu saja ketika model itu digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan ekonomi. Model bilang bahwa jika A naik maka B turun, ceteris paribus. Masalahnya, tentu saja, di dunia nyata, ketika A naik, mungkin Y dan Z juga berubah yang mana mereka turut mempengaruhi B. Jadi, untuk membuat B turun di dunia nyata tentu tidak semudah di dalam model. Variabel lain harus turut diperhatikan oleh pengambil kebijakan. Dan, perhatian terhadap variabel lain inilah yang kadang menimbulkan perselisihan.

Ekonom yang lahir dari perguruan tinggi yang sama, dengan dosen yang sama, buku teks sama, serta model-model yang dipelajari semuanya sama bisa berbeda pendapat mengenai kebijakan apa yang harus diambil karena hal yang telah saya sebutkan di atas. Mereka berbeda karena variabel-variabel di luar model yang mereka perhatikan berbeda, atau mereka punya perbedaan pendapat mengenai efek perubahan variabel di luar model itu tadi. Sebuah kutipan terkenal (saya lupa dari siapa) berkata bahwa jika kita bertanya kepada 5 ekonom tentang suatu hal yang sama, niscaya kita akan mendapat 5 jawaban berbeda. Hahaha

Jadi, kesimpulannya, ilmu ekonomi realistis atau tidak? Hmmm

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s