Bagaimana Beban Pajak Dialihkan ?

Pembahasan mengenai pengalihan beban pajak mungkin sudah dibahas sejak kita duduk di bangku SMA. Biasanya analisis dibantu dengan grafik semacam ini :

tax-on-cigarettes

gambar dipinjam dari sini

Grafik memang mempermudah analisis namun memandangi grafik tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dibalik kumpulan garis-garis itu bisa menyebabkan kebingungan yang akut bahkan bagi seorang mahasiswa Ilmu Ekonomi :p. Berangkat dari keprihatinan tersebut, mari kita buat penjelasan yang mudah atas hal ini.

Sebelumnya, pajak yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pajak tak langsung, yaitu pajak yang dibebankan atas suatu transaksi.

Apa itu pajak ?
Pajak adalah bentuk ‘perampasan’ atas uang yang diserahkan oleh penjual kepada pembeli oleh pihak ketiga (yaitu pemerintah ; atau sindikat mafia jika ada, wkwk).
Akibat ‘perampasan’ ini, uang yang diterima penjual tentu lebih kecil dari uang yang dibayarkan oleh pembeli.

Pertanyaan selanjutnya adalah, siapa yang dirugikan akibat kegiatan ‘perampasan’ ini ? Jawabannya bergantung pada seberapa sensitif penjual dan pembeli terhadap perubahan harga. Jika pembeli sangat butuh suatu barang, mungkin kenaikan harga barang tersebut tidak akan terlalu ia pedulikan. Jika penjual bisa dengan mudah mengganti barang apa yang ia jual, naiknya harga suatu barang akan ia respon cepat dengan menambah stok barang dagangan tersebut.

Selanjutnya mari berandai-andai:

Tersebutlah negeri bernama Imajinesia dengan mata uang Perak. Suatu hari Tyran sang raja  bertitah, “Untuk setiap botol Kokabola yang terjual, diwajibkan bagi kalian untuk memberiku satu Perak. Barangsiapa tidak memenuhi titahku ini, wajib baginya dihukum gantung.”

Kasus pertama :

Alkisah suatu hari di suatu pasar di negeri Imajinesia.

Pembeli : “Bang, beli Kokabola 5 botol dong.”
Penjual : “Oke, totalnya 30 Perak ya.”
Pembeli : “Mahal amat, Bang. Bukannya satu botol cuma 5 Perak ya?”
Penjual : “Udah denger titah Raja belum kamu ? Nanti 5 Perak hasil penjualan ini bakalan dikasih ke dia.”
Pembeli : “Widih. Turunin dikit lah, Bang.”
Penjual : “Ga bisa dik. Kalo nggak mau beli di harga segitu yaudah ga usah beli aja”
Pembeli : “Hmm. Yaudah deh, Bang. 5 botol 30 Perak juga gapapa. Aye sama temen-temen lagi haus banget soalnya.”

Pada kasus di atas, seluruh beban pajak akhirnya ditanggung pembeli. Sebab, mau tidak mau ia harus membeli barang dalam jumlah tertentu pada harga berapapun. Secara teori, pembeli dalam kasus ini permintaannya inelastis sempurna.

Kasus kedua:

Alkisah suatu hari yang lainnya di suatu pasar di negeri Imajinesia.

Pembeli : “Mas, beli Kokabola 5 botol ya.”
Penjual : “Siap dik. Semua 30 Perak ya.”
Pembeli : “Mahal banget, Mas. Biasanya satu botol cuma 5 Perak kan.”
Penjual : “Anu dik. Kamu sudah denger titah Raja juga kan?”
Pembeli : “Oalah. Tapi Mas jual 5 Perak juga masih untung kan?”
Penjual : “Waduh, iya sih dik, tapi…”
Pembeli : “Yaudah mas kalau ndak bisa 5 Perak aku tak beli yang lain saja.”
Penjual : “Hmm. Ya sudah lah dik 5 Perak aja. Ini juga cuci gudang jadi harus cepet habis”
Pembeli : “Mantab…”

Berkebalikan dengan kasus pertama, seluruh beban pajak pada kasus di atas akhirnya ditanggung penjual. Secara teori, penjual dalam kasus ini penawarannya inelastis sempurna.

Demikianlah. Pengalihan beban pajak terjadi dengan mekanisme harga. Dalam dunia nyata, tidak seperti dua contoh kasus di atas, beban pajak biasanya dibagi dua antara penjual dan pembeli. Hanya saja, siapa yang mendapat beban lebih besar bergantung pada elastisitas permintaan dan penawaran. Kita bayangkan saja ibu-ibu sedang adu tawar dengan penjual salak di pasar. Makin lihai jurus tawarnya, makin kecil beban pajak yang ditanggungnya (tentu saja jika penjualan salak dipajaki).

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah, hasil akhir pembebanan pajak tidak bergantung pada siapa yang seharusnya membayar (istilah kerennya, statutory incidence). Siapapun yang secara hukum diwajibkan membayar pajak -apakah penjual atau pembeli-, pembebanan pajak akhirnya hanya ditentukan lagi-lagi oleh elastisitas permintaan dan penawaran barang tersebut. Untuk memahami maksud konsep ini mari kita lanjutkan ke kasus selanjutnya:

Kasus ketiga :

Pada suatu hari yang cerah, sang raja negeri Imajinesia kembali bertitah, “Setiap orang yang baru saja membeli Kokabola diwajibkan membayar upeti sebesar 1 Perak untuk setiap 1 botol Kokabola yang dibelinya. Hal yang demikian disebabkan akan besarnya bahaya botol Kokabola bagi kelangsungan hidup bebek-bebek negeri Imajinesia yang amat lucu. Barangsiapa tidak patuh akan titah ini maka baginya kurungan di kandang bebek selama 3 tahun tanpa jeda.”

Lalu di pasar rakyat keesokan harinya:

Pembeli : “Kokabola 5 botol, Mas. Bungkus!”
Penjual : “Monggo dik, 25 Perak saja.”
Pembeli : “Waduh Mas, saya kan habis ini harus bayar upeti juga buat Raja. Jadi dimurahin saja lah jadi 4 Perak per botol. Kalau ndak mau yo wis saya tak ngombhe banyu sumur wae.
Penjual : (Woalah bocah…)”Yowis lah dik, 4 perak saja. Ini juga cuci gudang kok, jadi harus cepat habis.”
Pembeli : “Josss”

Dalam kasus di atas, meskipun yang secara legal terkena beban pajak adalah pembeli. Namun akibat penjual yang penawarannya inelastis sempurna, beban pajak sebenarnya akhirnya teralihkan semuanya ke penjual.

Selesailah dongeng mengenai beban pajak. Semoga keisengan kecil ini bermanfaat. Tulisan selanjutnya insyaAllah akan berdongeng mengenai Dead Weight Loss.

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s