Mending Ngasih Hadiah Uang atau Barang ? Mainstream vs Behavioral Economics

Beberapa waktu yang lalu, kakak tingkat saya melakukan sebuah penelitian menarik dalam rangka tugas kuliahnya. Penelitian tersebut menemukan bahwa secara umum hadiah ulang tahun yang diterima oleh anak-anak di fakultas kami merupakan sebuah hal yang tidak efisien. Mengapa? Sebab hadiah-hadiah tersebut dinilai oleh mereka jauh lebih rendah daripada harga belinya.

Fenomena ini disebut sebagai Dead Weight Loss dalam ilmu ekonomi, alias kesejahteraan yang hilang. Sebagai contoh, misalkan Anda membelikan sebuah boneka untuk anak Anda, sebuah boneka beruang. Sebelum melanjutkan, mari kita buat anggapan (yang saya yakin bagi Anda terasa tidak nyaman) bahwa Anda dan anak Anda mampu menilai ‘kesenangan’ dari memiliki dan memanfaatkan boneka tersebut dalam satuan rupiah. Oke. Anda berpikir bahwa boneka beruang tersebut sangat menggemaskan. Pada label harganya tertera Rp 300.000. Anda yakin anak Anda akan sangat senang dengan boneka tersebut dan mendapat ‘kesenangan’ sebesar Rp 500.000, sebagaimana Anda menilainya. Anda akhirnya memutuskan untuk membelinya dan menghadiahkannya kepada anak Anda. Ia memang terlihat senang, namun tidak sesenang harapan Anda. ‘Kesenangan’ yang timbul dari boneka tersebut hanya Rp 200.000.

Lihat. Sebetulnya lebih baik jika boneka tersebut Anda pakai sendiri bukan? Dengan begitu Anda mendapat ‘surplus’ sebesar Rp 200.000 yang merupakan selisih harga beli dan ‘kesenangan’ Anda terhadap boneka itu. Tambahan ‘kesenangan’ di keluarga Anda (yaitu jumlah tambahan ‘kesenangan’ Anda dan anak Anda) sebesar Rp 200.000. Namun kenyataannya adalah, Anda sudah mengeluarkan uang Rp 300.000 dan anak Anda hanya ‘senang’ sebesar Rp 200.000, sehingga ‘kesenangan’ di keluarga Anda malah berkurang Rp 100.000. Angka seratus ribu inilah yang disebut Dead Weight Loss atau kesejahteraan yang hilang : sebenarnya bisa segitu tapi kok cuma segini. Sesuai prinsip efisiensi alokasi (atau efisiensi Pareto), lebih baik Anda yang memakai bonekanya, karena dengan begitu Anda mendapat ‘surplus’ tanpa mengubah ‘kesenangan’ anak Anda (sebab ia tidak menerima hadiah namun juga tidak Anda ambil uangnya).

Jikapun Anda harus memberi anak Anda hadiah, lebih baik ia diberi uang tunai Rp 300.000 lalu Anda bebaskan mau beli apa. Ia akan membeli barang yang menimbulkan ‘kesenangan’ baginya lebih besar dari Rp 300.000 (atau setidaknya sama dengan Rp 300.000). Kesimpulannya, mending ngasih hadiah uang daripada barang!

Stop!

Sampai di sini mungkin pembaca menganggap penjelasan di atas sangat dingin, itung-itungan, tidak berperasaan, menyamakan manusia dengan kalkulator, dan sebagainya. Memang!

Penjelasan di atas memang penuh dengan banyak asumsi : ‘Kesenangan’ Anda tidak bergantung pada ‘kesenangan’ anak Anda, anak Anda tidak berkurang ‘kesenangannya’ jika tidak diberi hadiah, dan masih banyak lagi, terutama bahwa semua bisa diukur dengan rupiah!

Pada poin inilah kita harus melihat permasalahan ini dari cabang ilmu lain yang disebut dengan behavioral economics (ekonomika keperilakuan). Sebuah cabang ilmu cukup baru yang merupakan kawin silang ilmu ekonomi dan psikologi. (Saya pribadi melihat cabang ilmu ini kental dengan sudut pandang psikologi, sehingga saya juga menyebutnya psikologi ekonomi; telaah perilaku ekonomi dengan sudut pandang psikologi).

Mari kita bayangkan sebuah situasi, ketika Anda sedang mudik lebaran ke rumah ibu Anda. Kebetulan ibu Anda memasakkan opor ayam dengan ketupat, hidangan favorit Anda. Makanan sudah masuk ke perut, Anda kenyang, dan Anda sangat senang. Untuk menghargai hidangan tersebut, Anda lalu mengeluarkan tiga lembar uang Rp 100.000 lalu berkata, “Bu, opornya gurih banget, ini saya bayar”. Apa yang kira-kira terjadi ? Ibu anda marah, istri Anda menangis, pakdhe budhe semua yang ada di situ seketika menghujat Anda. Namun, bagaimana jika alih-alih memberi uang, Anda memberi ibu Anda sepaket parsel dengan harga yang sama? Ibu Anda tersenyum, istri anda juga, semua sumringah, tidak ada yang menangis.

Apa yang beda? Anda sama-sama memberi sesuatu yang bernilai tiga ratus ribu ke ibu Anda bukan? Jika pun beda, bukankah seharusnya pemberian berupa uang tunai lebih efisien? Kenapa reaksi orang-orang malah negatif?

Dalam bukunya yang sangat populer, Predictably Irrational, Dan Ariely menjelaskan bahwa setidaknya ada dua norma yang bekerja dalam kehidupan kita : norma sosial dan norma pasar. Konteks norma pasar akan muncul ketika kita berbicara dengan bahasa uang. Eksperimen-eksperimen yang dilakukannya telah membuktikan hal ini. Orang akan bekerja lebih keras ketika ia dimintai tolong untuk melakukan suatu hal daripada jika ia dibayar untuk melakukan hal tersebut. Sebab, ketika yang digunakan adalah kata ‘tolong’, konteks yang muncul adalah norma sosial : tolong menolong, empati, kekeluargaan, dsb. Sementara, jika yang digunakan adalah uang atau bayaran, konteks yang muncul adalah norma pasar : untung-rugi, transaksional, dsb.

Kesalahan orang mengaplikasikan norma pasar dalam hal yang seharusnya menjadi konteks norma sosial dapat merusak norma sosial itu sendiri. Dan lebih parah lagi, sekali norma sosial ternodai, ia akan susah diperbaiki. Sekali Anda memberi uang kepada seorang teman atas bantuannya kepada Anda, setelah itu ia akan memakai logika untung rugi dalam membantu Anda.

Hikmah dari temuan ini adalah, berikan hadiah atau ucapan terima kasih dalam bentuk barang. Meskipun bisa jadi si penerima tidak mendapat ‘kesenangan’ sesuai penilaian kita, hal ini akan memperkuat ikatan sosial di antara kita, yang tentu saja tidak bisa dibeli dengan uang ! Saya ingat cerita salah seorang kawan saya. Suatu ketika ia bersama temannya berboncengan motor dan tiba-tiba bensinnya habis. Malang, kawan saya tak membawa uang. Jadilah temannya yang membayari bensin. Beberapa hari berikutnya, agar impas, kawan saya memberi amlop berisi uang pada temannya tadi, dan apa yang terjadi? Temannya marah!

Demikianlah, logika efisiensi semata tidak dapat menjadi pertimbangan kita dalam memberi hadiah. Kita perlu memperhatikan konteks hubungan sosial antara kita dan penerima hadiah. Lantas, apakah dengan mengutamakan norma sosial harus selalu mengorbankan efisiensi a la ekonomi ? Bisa jadi iya, namun hal ini menurut saya dapat dikurangi, misalnya saja dengan jalan melakukan penyelidikan yang mendalam terhadap preferensi penerima hadiah (alias kepo barang kesukaannya). Atau, misalkan kita kesulitan melakukan hal tersebut dan kita tidak terlalu terpaku dengan rentang harga hadiah, kita bisa mengajak mereka langsung ke toko dan membiarkan mereka yang memilih barang sementara kita yang membayar. Memang esensi ‘hadiah’ jadi hilang di sini. Namun, apapun yang terjadi, jadikan uang sebagai opsi terakhir!

 

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

2 responses to “Mending Ngasih Hadiah Uang atau Barang ? Mainstream vs Behavioral Economics

  1. Herman Palani

    Tidak sia-sia saya berkunjung. Ditunggu tulisan selanjutnya. Satu jenaka, jikalau semua orang berpikir demikian, mungkin tidak ada lagi yang berjualan uang kertas baru pada saat menjelang lebaran, penjual uang berusaha profesi menjadi penjual hadiah wkwkwk

  2. Marvellous.. Kakak sukanya apa sih? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s