Pengorbanan yang Muncul dari Egoisme

Anak ekonomi pasti akrab dengan konsep invisible hand-nya Adam Smith. Tangan tak terlihat, yang menyebabkan perilaku individual yang mementingkan diri sendiri (self-interest) dalam interaksi mereka di pasar pada akhirnya menciptakan kesejahteraan bersama. Untuk Anda yang mungkin belum pernah dengar istilah ini, kira-kira gampangnya begini deh:

Pak Min si penjual sop itu, menciptakan sop ayam kampung yang enak banget tiada duanya, bukan karena niatnya memang ikhlas membuat Anda bahagia, tapi karena Pak Min ingin uang Anda! Pak Min bikin sop enak biar Anda suka dan mau beli. Tidak hanya Pak Min. Pak Topo, Pak Kumis, Pak Pele, semua produsen gitu. Dan begitu juga dengan kita sebagai konsumen. Kita ngasih uang mereka kenapa hayo? Karena kita pengen menikmati sop ayam, ayam goreng kremes, dan bakmi Jawa mereka kan? Nah kedua pihak yang mementingkan diri sendiri ini, melalui proses pertukaran secara sukarela di pasar, pada akhirnya menciptakan kesejahteraan bersama : Pak Min dkk dapat uang sehingga juga bisa memenuhi kebutuhan mereka, dan kita pun kenyang!

Sekumpulan orang yang masing-masing ‘ada maksud’ terhadap yang lain, saling melakukan pertukaran, dan akhirnya semua bahagia! Inilah poinnya. Tidak perlu semua orang bertindak altruistik (mementingkan orang lain) agar kesejahteraan bersama tercipta. (Meskipun ada tempatnya di mana mekanisme pasar akan gagal dan altruisme jadi perlu). Tampak seperti paradoks kan!

Hmm, yang mau saya bahas bukan konsep invisible hand itu sendiri, tapi, suatu konsep yang lebih umum, yaiu bahwa kadang suatu sifat yang berbeda itu muncul dari hasil interaksi penyusun-penyusunnya yang punya sifat lain. Dan, kadang sifat itu saling bertentangan. Begini contoh yang lain : berhemat itu sesuatu yang bagus pada tataran mikro, tapi secara makro bisa jadi buruk. Kalau semua orang berhemat, permintaan agregat bisa turun dan ekonomi bisa stagnan bahkan anjlok! Di sini lah dapat terjadi apa yang disebut dengan fallacy of composition.

Nah, terkait konsep ini saya juga teringat sesuatu..

Beberapa waktu yang lalu saya membaca bukunya Richard Dawkins, The Selfish Gene. Boleh dibilang saya cukup terpesona dengan caranya menjelaskan evolusi Darwinian. Konsepnya begitu simpel dan elegan. Yang saya soroti dari buku tersebut adalah bagaimana cara Om Dawkins menjelaskan asal usul perilaku altruistik pada makhluk hidup, termasuk manusia.

Ide dasar evolusi Darwinian itu adalah seleksi alam (natural selection). Siapa yang mampu beradaptasi dengan alam dengan baik, ia yang akan selamat.

Nah, saya yakin, banyak dari kita yang ketika mendengar tentang teori evolusi Darwinian, kita langsung membayangkan suatu proses yang kejam. Saya pun (dulu sebelum baca buku itu) demikian. Evolusi Darwinian dalam benak kita isinya adalah kompetisi yang kejam, hukum rimba. Semua organisme mementingkan dirinya sendiri dan saling bunuh. Lalu dalam cara pandang seperti ini, bagaimana kita menjelaskan perilaku altruistik?

Dawkins menjelaskan bahwa perilaku altruistik bisa muncul karena yang berkompetisi dalam proses seleksi alam itu bukan individu, bukan spesies, bukan kelompok organisme, tapi GEN! Jadi, kembali ke kalimat saya dua paragraf di atas, “Siapa yang mampu beradaptasi dengan alam dengan baik, ia yang akan selamat”, siapanya itu adalah gen. Itulah mengapa judul bukunya “Gen yang Egois”. Ia menjelaskan, organisme itu cuma alat atau “tumpangan” bagi gen. Macan berevolusi menjadi perkasa, bertaring, karena itu adalah tumpangan yang efektif bagi gen-gen yang ia bawa. Perlu diketahui, ada banyak gen dalam satu individu. Dan juga yang perlu diperhatikan, istilah “gen yang egois” ini cuma metafora belaka, jadi jangan bayangkan gen punya kesadaran.

Justru pada evolusi Darwinian dengan sudut pandang gen seperti ini, citra bahwa proses seleksi alam itu identik dengan organisme yang selalu saling berkompetisi, jegal satu sama lain, hilang. Dengan sudut pandang inilah dapat dijelaskan mengapa perilaku altruistik antarindividu itu bisa muncul : karena hal itu menguntungkan bagi “egoisme” gen-gen yang ditumpanginya. Saya tidak menjelaskan mekanisme rincinya. Silakan saja bagi Anda yang tertarik mengetahuinya lebih dalam untuk membaca buku tersebut. Tapi saya peringatkan, bagi Anda yang merasa imannya gampang goyah, hati-hati, hehehe.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s