Liberalisme dan Behavioral Economics

Seperti kita tahu, liberalisme didasarkan pada proposisi bahwa seorang individu harus diberi kebebasan untuk bertindak atas dasar kehendaknya. Bahwa ia bebas melakukan apapun semaunya asalkan ia tidak mengganggu individu lain. Dengan basis seperti ini, para penganut ideologi liberal garis keras biasanya bahkan menentang program-program jaminan sosial dari pemerintah yang sifatnya mewajibkan. Sebab, itu artinya memaksa orang! Siapa yang bisa jamin kalo orang jompo yang hidup sendirian memang mau dibantu? Hayo?

Argumen seperti ini bisa ditarik pula dari teori di ekonomika konvensional. Asumsinya adalah, seorang makhluk ekonomi, homo economicus, sepenuhnya rasional. Ia tahu apa yang diinginkannya. Lebih tegas lagi, ia tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Selanjutnya, ia tahu pula seluruh informasi tentang apa yang dapat ia pilih dan konsekuensinya, serta ia juga membuat pilihan secara konsisten.

Sesuai teori tersebut, seseorang yang merokok, dan ia tahu betul dampak negatif merokok bagi tubuhnya, artinya ia memang bersedia mengorbankan kesehatan di masa depan untuk kenikmatan menghisap rokok saat ini. Dalam konteks ini ia rasional. Namun, jika kemudian di kemudian hari ia menyesal ketika ia akhirnya kena kanker paru-paru akibat merokok, hancur sudah rasionalitasnya. Tidak ada kata penyesalan dalam dunia berisi homo economicus!

Bagaimana kenyataannya? Behavioral economics, di sisi lain, mengungkapkan temuan-temuan empiris bahwa manusia itu tidak konsisten. Kalo kata orang Jawa, mencla-mencle. Sekali kesempatan ia pilih ini, di kesempatan lain dengan pilihan yang sama namun konteks berbeda, ia pilih itu. Manusia itu gampang terpengaruh. Apalagi oleh nafsu, saya sebut saja begitu, yang menyebabkan pilihan antarwaktu (intertemporal) menjadi tidak konsisten. Kenikmatan sesaat begitu lho, sesal datang kemudian.

Makanya, salah satu argumen bahwa pemerintah perlu campur tangan dalam penentuan keputusan seseorang itu karena orang kadang tidak bisa berpikir jernih. Pemerintah itu seperti orang tua yang mengingatkan anaknya untuk tidak bermain pisau, meski sang anak senang dengan mainan tersebut, karena orang tua tahu bahwa pisau berbahaya!

Oke, jadi liberalisme garis keras sepertinya sudah tidak relevan lagi (setidaknya menurut saya, hehe). Orang-orang memang pada beberapa hal perlu diarahkan dalam mengambil keputusan. Lalu pertanyaannya, atas dasar apa otoritas yang berwenang memilihkan keputusan untuk orang-orang tersebut dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang seharusnya dipilih dan mana yang tidak? Hayo?

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s