Category Archives: Uncategorized

Artificial Ignorance

Once, I was a big fan and a fanatic defender of MSG (or we call it ‘micin’ here). I argued that (it’s not me actually; just retelling what I read from the articles) MSG is completely OK. It is a natural substance and can be found in many ‘natural’ foods such as from tomatoes and mushrooms. And because of it, I (again, I just following the articles) therefore concluded that it is silly to blame MSG.

Until… I realized that sugar, fat, porn, and even social media, is basically ‘natural’. Their essence can be traced back to our primordial instincs. We love them because they are vital to our survival…. back then. Sugar and fat are precious nutrition and WERE scarce. Our ancestor needed to do hard work to find them, and after getting them, they were rewarded by the sweet and fatty tasty flavor. Who doesn’t like sweet? Almost everyone. Why? Because the ones who didn’t like it, they wouldn’t put their effort to hunt it, and they couldn’t get energy from it, and they died… without even had a chance to produce offsprings. The same principles apply to porn and social media too (and another things). Porn exploits our desire of sex, which is essential for reproduction, and social media exploits our desire to socialize. See? They are basically ‘natural’.

So, what’s wrong? The answer is… although the desires are natural, the environments or the contexts are artificial. We now live in a world where Malthusian nightmare are no longer a problem. We have the technology that enable us to mass-produce almost anything. Good bye scarcity! Is it a good thing? Not really! Our economic system of free enterprise that gives the people right to accumulate wealth by the so-called market mechanism induces them to find a way to effectively capturing the consumers. The easiest way to do that is, of course, by creating products that exploit their ‘natural’ desires. Our ‘natural’ desires, that was once a mechanism for survival, now become more like a bug in a computer program that enables the hackers to control the program. They are exploiting our bug!

But some of you might argue, “they might exploit our natural desires for their own interest, but if that’s what makes us feel good (happy?), where is the problem? “. Then I would answer, “There is more to life than feeling (artificially) good. Why? Because, first, what feels good at a point in our life can be bad in terms of our life continuum. We are myopic, because we can’t see the future, the consequences of our current act, clearly. We are subject to regret. Second, the exposure of artificially strong stimuli can dull our senses. We are becoming more and more insensitive. Once we are familiar with strong stimuli, it is hard to calibrate our sense to easily react with the weaks. That’s a big problem. Why? Because it’s becoming harder to feel good. Happiness was simple and easy, till the attack of supernormal stimuli”.

So, by realizing that, I’m currently trying to reduce my dependence on supernormal stimuli, the things that give me instant dopamine. I’m not trying to be a Sufi or a Zen master. I just don’t want someone else controlling my ability to be happy. Because we are the one who have right to decide our own feeling and life.

This is a rebellion against the invaders of our mind, a liberation to reclaim our independence.

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kenapa orang jaman dulu tidak gampang sakit?

Karena yang gampang sakit sudah meninggal sejak kecil. Yang tidak gampang sakit hidup sampai dewasa, lalu punya anak. Anak-anak dari orangtua sehat berpeluang lebih besar untuk sehat. Demikian seterusnya, sehingga populasi jadi kebal terhadap penyakit … di daerah tersebut. Iya, penyakit lokal gitu lho. Ingatlah ketika orang-orang Spanyol menduduki Amerika, penduduk asli Amerika lebih banyak mati akibat kena penyakit bawaan orang Spanyol (yang orang Spanyol sendiri sudah kebal) daripada dibunuh secara langsung oleh orang Spanyol. Populasi penduduk asli Amerika belum siap menghadapi penyakit baru ini.

Itulah prinsip seleksi alam.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Indifferent

Di persimpangan jalan, kita berpikir.

Merenung tentang kemungkinan-kemungkinan yang bersembunyi di balik kedua cabangnya.

Kabut putih itu, lebat memeluk udara.

Di persimpangan jalan kita menghitung, sia-sia.

Kabut putih tak bergeming, tetap bersemayam di sana. Tidak ada cara untuk membuatnya menyingkir.

Bekal telah habis. Kembali terlalu berbahaya.

Maka kita lalu terduduk, tepat di antara keduanya.

Lama kita terduduk, dan semakin lama.

Hingga akhirnya kita memutuskan.

“Biarlah aku duduk berdiam di sini selamanya”. 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Sedikit Nasihat untuk Thanos

Thanos, anatagonis utama dalam film Avengers : Infinity War, boleh dibilang sebenarnya punya itikad baik mengenai masalah kelangkaan yang menyebabkan penghuni semesta jadi nelangsa. Mengikuti Thomas Malthus, ia berpikir bahwa populasi alam semesta sudah terlalu banyak. Di sisi lain, sumber daya yang ada, wabilkhusus pangan, terbatas. Terlalu banyak mulut untuk diberi makan. Maka Thanos berinisiatif mengatasi hal ini dengan melenyapkan setengah penghuni semesta. Agar adil, siapa yang akan dilenyapkan dipilih secara acak.

Tidak seperti Malthus yang cukup menuangkan gagasannya pada bukunya An Essay on the Principle of Population, Thanos melakukan aksi nyata. Sayangnya, ada beberapa hal terkait tindakannya yang menurut saya kurang tepat. Dengan semangat saling menasihati dalam kebaikan, berikut beberapa saran saya untuk Thanos.

Pertama, haruskah melenyapkan penduduk alam semesta?
Kalau Thanos sedikit membaca lebih banyak, mungkin Thanos akan sadar bahwa teori Malthus kurang relevan di dunia modern. Sebabnya ialah perubahan teknologi yang menyebabkan produksi pangan dapat mengimbangi, bahkan melebihi laju pertumbuhan penduduk. Mengapa Thanos tidak menggunakan kekuatan enam batu akik saktinya itu untuk membuat mesin produksi pangan otomatis saja? Kalaupun tidak bisa, mengapa tidak mengajak para avenger duduk bersama merembuk masalah ini? Apalagi di barisan avenger ada si kapitalis jenius Tony Stark. Insyaallah Iron Man mau kok diajak bikin riset tentang peningkatan produksi pangan.

Kedua, kalaupun harus melenyapkan penduduk alam semesta, mengapa harus secara acak?
Mungkin memang terdengar adil, tapi dengan cara seperti ini, penghuni semesta justru bisa semakin nelangsa. Bayangkan tiba-tiba anak kehilangan kedua orang tuanya, suami kehilangan istrinya, seseorang kehilangan orang lain yang menafkahinya atau yang dicintainya, bukankah hidup malah jadi lebih susah? Kalau mau menghilangkan setengah penduduk alam semesta, sebaiknya justru lakukan dengan sistematis. Kesetahjeteraan seseorang bergantung kepada kesejahteraan orang lain dalam taraf yang beragam. Hal ini perlu masuk dalam pertimbangan Thanos. Jika ada satu keluarga yang hidup harmonis, alih-alih melenyapkan sebagian, lebih baik lenyapkan seluruhnya. Kata Stalin, “No Man No Problem”, bukan?
Thanos sebaiknya meluangkan sedikit waktunya untuk juga membaca karya-karya yang berkaitan dengan utilitarianisme. Pikirkan matang-matang sebelum melenyapkan orang.

Ketiga, apa lagi, ya? Ah sudahlah itu saja

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ciri Tebakan yang Baik

Statistika inferensial pada dasarnya adalah ilmu tentang tebak-tebakan. Kita ingin menebak bagaimana karakteristik populasi (sesuatu yang ingin kita tebak) dengan jalan mengintip sebagian (yang disebut sampel) dari populasi tersebut.

Sesuatu yang berusaha kita tebak ini (entah itu nilai rata-rata, varians, kovarian, dsb) disebut dengan parameter, dan tebakan kita disebut dengan estimator (atau statistik).

Tentu saja kita ingin tebakan kita adalah tebakan yang baik. Demikian pula statistikawan, ingin memiliki estimator yang baik. Dua karakteristik utama dari estimator yang baik adalah:

1. Unbiasedness : yaitu ketika dilakukan estimasi berulang kali, rata-rata nilai estimator kita sama dengan nilai parameter.

2. Efficiency : yaitu ketika estimator kita memiliki varians terkecil dibanding estimator-estimator lain yang sejenis.

Statistikawan berusaha membuktikan (secara matematis) cara estimasi yang mereka ajukan memenuhi kedua karakteristik tersebut. Jika mereka tidak mampu membuktikannya? Setidaknya ada karakteristik ketiga yang harus dipenuhi:

3. Consistency : yaitu ketika estimator kita semakin mendekati nilai parameter seiring dengan makin banyaknya jumlah sampel yang kita gunakan.

***

Tulisan ini merupakan pengingat bagi saya ketika dalam membaca buku teks ekonometrika seringkali muncul ketiga istilah itu, dan saya bingung. Semoga tidak bingung lagi.

Leave a comment

Filed under Uncategorized