Category Archives: Uncategorized

Tidak selesai

Siapa sangka tetesan hujan bisa menjadi begitu meneduhkan, dan senja seakan menyayat hati ? Tentu tak lain ialah dengan sebab makna yang kita lekatkan padanya. Dan pada kehidupan kita pula, pada alur yang kita titi, pada keluarga, kawan, bahkan orang yang kita benci. Semua ada karena makna yang terberi.

Tidak seperti batu atau air, manusia dikaruniai kemampuan untuk menentukan kisahnya sendiri. Meskipun tak ada kepastian apakah ia nyata atau ilusi, toh hal tersebut tetap menjadi prinsip yang diyakini kebanyakan orang hingga mati. Batu dan air adalah kata-kata yang tersedia. Manusia lalu merangkainya menurut yang ia kehendaki, menjadi kalimat-kalimat padu dan menjadi cerita-cerita. Pada cerita itu ia letakkan batu dan air menjadi latar atau bahkan malah pemeran utama.

Di antara batu dan air itu terdapat manusia-manusia lain pula. Dan tiap-tiap manusia membuat cerita masing-masing. Dalam cerita satu manusia, hampir selalu ia sertakan manusia lainnya melalui cara yang berbeda-beda. Kalau diibaratkan benang mungkin cerita itu saling berjalinan, berpilin, bersimpul membentuk jaring-jaring yang di satu sisi menampilkan pola yang indah, namun di sisi lain hanya gumpalan benang kusut dan ruwet.

Pada jaring-jaring inilah bersemayam apa yang disebut dengan sejarah. Jejaring besar yang mudah diamati dengan mata telanjang. Demikian mudah untuk ia yang dapat melihat jaring-jaring itu secara penuh, namun butuh kepayahan bagi benang-benang itu sendiri untuk memahaminya.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tinggi orang Indonesia

Saya punya tubuh yang minimalis, dan itu menyebabkan saya penasaran seberapa minimaliskah saya secara relatif jika dibandingkan yang lain. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya yakin tinggi badan saya di bawah rata-rata (orang Indonesia), namun ketika melihat data di wikipedia, rata-rata tinggi orang Indonesia untuk laki-laki adalah 158 cm dan perempuan 147 cm. Berdasar data tersebut, tinggi saya tepat ada di rata-rata.

Namun, kebenaran yang pahit itu bagi saya lebih baik daripada kesahalah yang indah lagi menenangkan. Hahaha. Saya tidak boleh senang dulu. Memang, setelah saya cek, ada setidaknya 2 hal yang menyebabkan informasi tersebut tidak relevan bagi saya. Pertama, ternyata untuk data Indonesia, rentang usia yang dijadikan sampel adalah 50 tahun ke atas. Kedua, data tersebut berasal dari IFLS 2 yang dilakukan tahun 1997. Bisa jadi, generasi lebih muda cendererung lebih tinggi. Oleh sebab itu saya mencoba menggunakan data IFLS terbaru (IFLS 5) yang dilaksanakan pada akhir 2014 hingga awal 2015. Berikut hasilnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tentang Uang

Manusia punya kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang berbeda-beda. Untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya, mereka melakukan pertukaran.

Maka terciptalah sistem barter.

Ketika barang dan jasa menjadi amat beragam, barter menjadi sulit pula untuk dilakukan. Manusia lalu menyepakati satu atau beberapa jenis barang tertentu, seperti emas, untuk menjadi alat tukar yang akan memudahkan pertukaran.

Maka terciptalah uang komoditas.

Membawa emas dalam jumlah banyak untuk digunakan bertukar terkadang merepotkan dan juga berbahaya. Sekelompok manusia (yang akan kita sebut sebagai bankir) lalu menyediakan jasa penitipan emas, dan sebagai bukti penitipan dikeluarkanlah selembar kertas. Lembaran kertas inilah yang digunakan orang-orang untuk bertukar.

Maka terciptalah standar emas.

Bankir mengamati bahwa amat jarang sekali penyimpan emas menagih kembali emas simpanannya, karena mereka telanjur nyaman bertukar dengan kertas. Bankir lalu mencetak kertas-kertas lebih banyak untuk dipinjamkan kepada manusia-manusia yang memerlukan pinjaman.

Maka rusaklah standar emas.

Dengan berkembangnya zaman, sistem pemerintahan dan perekonomian semakin terlembaga. Bankir-bankir pencetak (uang) kertas secara resmi menjadi bank sentral. Manusia tetap menggunakan kertas-kertas itu untuk bertukar, karena sang penguasa menjaminnya, dan manusia percaya.

Maka terciptalah sistem uang fiat.

Setelah berjalan lama, manusia kembali berpikir. Menggunakan uang kertas kini juga terasa tidak nyaman. Maka sekumpulan bankir kembali menawarkan jasanya. Uang-uang kertas itu disimpan para bankir, dan sebagai gantinya mereka diberi sekeping kartu berisi chip yang mampu menyimpan data uang mereka. Manusia lalu menggunakan kartu itu untuk bertransaksi.

Maka terciptalah e-money.

Bankir kembali mengamati bahwa amat jarang sekali penyimpan uang menagih kembali kertas simpanannya, karena mereka telanjur nyaman bertukar dengan e-money. Bankir lalu menambah bit-bit data uang lebih banyak untuk dipinjamkan kepada manusia-manusia yang memerlukan pinjaman.

Maka inilah kecemasan saya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Liberalisme dan Behavioral Economics

Seperti kita tahu, liberalisme didasarkan pada proposisi bahwa seorang individu harus diberi kebebasan untuk bertindak atas dasar kehendaknya. Bahwa ia bebas melakukan apapun semaunya asalkan ia tidak mengganggu individu lain. Dengan basis seperti ini, para penganut ideologi liberal garis keras biasanya bahkan menentang program-program jaminan sosial dari pemerintah yang sifatnya mewajibkan. Sebab, itu artinya memaksa orang! Siapa yang bisa jamin kalo orang jompo yang hidup sendirian memang mau dibantu? Hayo? Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Pengorbanan yang Muncul dari Egoisme

Anak ekonomi pasti akrab dengan konsep invisible hand-nya Adam Smith. Tangan tak terlihat, yang menyebabkan perilaku individual yang mementingkan diri sendiri (self-interest) dalam interaksi mereka di pasar pada akhirnya menciptakan kesejahteraan bersama. Untuk Anda yang mungkin belum pernah dengar istilah ini, kira-kira gampangnya begini deh: Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized