Category Archives: Uncategorized

Wajarkah Ada 17,5 Juta Pemilih Bertanggal Lahir Sama?

Jawaban singkat : wajar.

Sebabnya, kemendagri punya aturan untuk mencatat tanggal lahir seseorang jika ia lupa kapan secara pasti ia lahir. Jika seseorang tidak tahu tanggal dan bulan ia lahir, akan dicatat lahir pada tanggal 1 Juli.

Tapi, apa iya yang bertanggal sama bisa sampai 17,5 juta?

Saya kebetulan punya data tanggal lahir penduduk sedesa di tempat KKN saya sesuai catatan dukcapil. Desa ini merupakan desa transmigran di Kalimantan. Dari 2.438 penduduk desa, 210 di antaranya (8,61%) tercatat bertanggal lahir 1 Juli.

Jika kita batasi populasi menjadi hanya penduduk yang berusia 17 tahun ke atas, hasilnya melonjak menjadi 12,11 %. Mengapa? Tentu karena yang lupa tanggal lahir adalah orang-orang tua.

Jika diasumsikan bahwa distribusi data ini identik dengan distribusi data pemilih nasional, berarti akan ada 12,11% x 190 juta pemilih = 23 juta pemilih bertanggal lahir 1 Juli.

23 JUTA, bukan hanya 17,5 juta.

Tentu, mengingat data saya berasal dari desa transmigran, hasil estimasi ini akan ketinggian (overestimated). Melihat data ini, menurut saya di level nasional angka 17,5 juta terdengar wajar. Sekian.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Kesalahan Penggambaran Binokuler di Film

Dalam film, ketika ada adegan penggunaan binokuler (keker; dari bahasa Belanda “kijker“) dan sudut pandang film diubah ke si pengguna binokuler, pemandangan yang kita lihat kira-kira seperti ini:

bino salah.png

Sangat familiar bukan? Padahal, bagi orang yang pernah menggunakan binokuler (yang tidak rusak tentunya) akan sadar bahwa pemandangan yang terlihat seharusnya seperti ini:

bino benar.png

Meskipun kita melihat objek melalui dua buah okuler yang berbeda, gambar yang kita lihat hanya satu bulatan seperti di atas itu.

Jika gambar yang kita lihat tidak membentuk satu bulatan sempurna, artinya binokuler yang kita gunakan tidak terkolimasi dengan baik. Ini terjadi karena sinar yang melalui kedua sisi binokuler tidak sejajar. Sehingga, ya harus diperbaiki. Apalagi jika sampai seperti gambar yang di atas itu, sudah sangat parah. Menggunakan binokuler yang tidak terkolimasi dengan baik akan memaksa mata menjadi juling. Tidak nyaman.

Nah, masalahnya, penggambaran binokuler seperti dengan dua bulatan saling beririsan seperti itu sudah sangat lumrah digunakan di film, bahkan untuk sekelas film-film holywood. Saya yakin sebenarnya sang sutradara tahu bagaimana gambar pemandangan dari binokuler yang benar, tapi mungkin gambaran seperti itu tetap digunakan untuk memperjelas kepada penonton bahwa kita sedang ditempatkan di posisi pemakai binokuler. Ya memang jadi tidak realistis.

Kalau ada dari pembaca yang belum pernah mencoba pakai binokuler, semoga besok ketika mencoba pertama kali tidak protes, “Loh kok bulatannya cuma satu?”.

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tuhan

Sakitku kau mainkan

Tawamu kuagungkan

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ibu, Ayah

aku mencari kalian dalam hutan, dalam rawa-rawa, dalam telaga
dalam jalan-jalan, yang sunyi hingga yang berdesakan
dalam gang-gang, yang suram sampai yang gemerlapan
dalam tepi-tepi kali yang curam
dalam rumah-rumah tuhan, dalam langit, dalam pekatnya malam

tapi ternyata selama ini kalian sembunyi
dalam darah dan dagingku sendiri

2 Comments

Filed under Uncategorized

Tentang Interpretasi Koefisien Gini

Beberapa waktu kemarin saya membaca buku yang ditulis oleh salah seorang capres (tidak perlu saya sebutkan yang mana, hehe). Di buku tersebut tertulis bahwa 49% kekayaan di Indonesia dikuasai 1% penduduk terkaya. Dari mana angka tersebut didapat? Ternyata dari koefisien Gini kekayaan yang bernilai 0,49. Saya berpikir sejenak dan akhirnya sadar bahwa interpretasi semacam ini adalah penyederhanaan yang kebablasan. Continue reading

1 Comment

Filed under Uncategorized