Berbagi

Kamu tahu kenapa berbagi itu baik, terutama jika kamu sudah punya banyak (uang misalnya)?

Karena jika kamu sudah punya banyak uang, tambahan manfaat yang kamu peroleh dari tambahan rupiah yang kamu miliki akan lebih kecil daripada ketika tambahan rupiah tersebut dimiliki oleh orang yang baru memiliki sedikit uang.

Jika kamu sudah kaya, tambahan uang 10 ribu rupiah bagimu mungkin tidak terlalu berarti. Tapi bagi gelandangan yang kelaparan, mungkin itu penentu hidup atau mati.

~The law of diminishing marginal utility

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Ilmu Titen

Orang Jawa terkenal dengan ilmu titennya, alias ilmu mencermati. Jika terlihat keadaan demikan dan demikian, maka itu pertanda kejadian tertentu akan terjadi. Kodifikasi ilmu titen yang sering kita dengar misalnya Primbon dan Pranatamangsa.

Ilmu titen itu sebuah pijakan penting bagi pembentukan ilmu pengetahuan, karena ilmu titen sebetulnya nama lain dari penalaran induksi. Minggu lalu saya melihat kejadian A, lalu diikuti kejadian B. Kemarin saya melihat kejadian A, dan diikuti kejadian B lagi. Makin sering saya melihat pola seperti itu, makin percaya diri saya mengatakan bahwa kejadian A adalah pertanda kejadian B.

Sayang beribu sayang, ilmu titen itu tak berkembang lebih lanjut. Dari yang awalnya kumpulan generalisasi pengalaman faktual berubah menjadi kepercayaan supranatural. Setelah teori-teori ‘titen’ itu terkristaliasi, entah dalam wujud tuturan lisan atau kitab tertulis, orang tak lagi mau memverifikasinya lebih lanjut dengan fakta-fakta yang ada. Teori-teori titen itu berubah menjadi sesuatu yang sakral. Entahlah, mungkin memang kecenderungan orang Jawa untuk mempertahankan warisan leluhur.

Dan lagi, kegiatan ‘niteni’ itu tidak dilanjutkan dengan usaha mencari penjelasan yang mendasarinya. Kucing kawin menandakan datangnya musim A. Tapi kenapa bisa begitu? Kalaupun ada usaha penjelasan, sifatnya sangat supranatural.

Saya sempat berpikir, kebudayaan Jawa banyak terpengaruh oleh kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam. Kita tahu bahwa India banyak menghasilkan pemikir matematika dan astronomi pada milenium pertama, pun begitu dengan kebudayaan Islam. Tapi kenapa budaya itu tak ikut ditularkan ke Jawa?

Kenapa budaya berpikir secara formal seperti logika dan matematika tidak berkembang di Jawa? Dengan begitu ilmu titen yang sifatnya induktif bisa dibarengi dengan pola pikir deduktif, dan dengan begitu metode ilmiah bisa dirintis.

Mungkin pernah, dan mungkin bahkan orang Jawa dulu bahkan mengembangkan itu. Mungkin. Saya tidak tahu.

Tidak ada gunanya mengenang kejayaan masa lalu kalau hanya membuat kita terlena dan meringkuk lebih dalam di balik selimut.

Jika ada yang berkata, “lihat betapa hebatnya nenek moyang kita mengukir bongkahan batu jadi candi sebesar itu!”, jawablah dengan bertanya. “terus sekarang kamu, keturunannya, bisa apa?”

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Solilokui

Kepada Bapak yang berjualan tempat cucian kotor dari anyaman bambu.

Pak, kenapa Bapak sering sekali muncul dalam lamunan saya? Saya selalu terbayang kepingan suasana itu, ketika di malam sepulang kuliah yang dingin, bahkan kadang disertai gerimis, Bapak duduk termenung di trotoar samping kampus, dengan tumpukan anyaman bambu yang sepertinya jumlahnya selalu sama. Bapak sudah makan? Bapak tidur di mana?

Pak, tahukah Bapak bahwa saya ini orang yang -mungkin tidak banyak diketahui- sangat mudah terenyuh? Bahkan untuk mengetik ini saja mata saya mulai basah, Pak. Apakah Bapak sengaja ingin saya jadi begitu?

Tidak ! Sekalipun Bapak tak ada salah dengan saya. Bagaimana bisa, saya bahkan tak pernah menghetikan motor untuk membeli salah satu anyaman bambu Bapak, atau sekedar untuk bertanya. Bahkan nama Bapak pun saya tak tahu. Bagaimana mungkin saya akan menyalahkan Bapak? Sayalah yang salah, karena selalu mengingkari dorongan itu, dorongan untuk membeli dagangan Bapak serta orang-ororang seperti Bapak. Saya ini mahasiswa Pak. Harap maklum, saya harus berhemat. Kata orang mahasiswa itu hidupnya susah, tercermin dari asupan gizinya yang cuma dipenuhi dari Indomie. Benarkah, Pak? Jangan-jangan bagi Bapak makan Indomie itu saja sudah jadi barang mewah? Katakan pada saya Pak, agar saya belajar, siapa yang lebih susah?

Sudahlah Pak, saya tak kuat membohongi diri sendiri. Saya hanya mencari pembenaran.

Dahulu sewaktu saya masih kecil, orang tua saya suka berkata pada saya ketika saya tak mau makan dengan dalih makanannya tidak enak, bahwa kita harus ingat dengan orang-orang yang untuk makan saja susah. Sekarang jika nafsu makan saya hilang dan saya berusaha untuk melakukan hal itu, mengingat Bapak dan orang-orang seperti Bapak, yang ada adalah saya jadi harus mengatur napas dan menahan air mata yang berontak minta dibebaskan.

Berlebihankan saya, Pak?

Dalam belajar ilmu ekonomi, saya diajari bahwa kita tak boleh melihat realita secara subjektif. Dalam pola pikir ilmiah secara umum, bukti anekdotal tidaklah kuat untuk dijadikan landasan berteori, alih-alih kita harus menggunakan data yang representatif. Bapak tahu apa itu anekdot Pak? Itu cerita satu dua peristiwa. Itu kisah orang-orang tertentu Pak. Sebagaimana saya bercerita keadaan Bapak. Dan saya harus menghindari sumber-sumber seperti itu, Pak. Tahukah Bapak apa yang saya akhirnya lihat sebagai mahasiswa ilmu ekonomi? Angka, Pak. Angka kemiskinan. Deretan angka-angka yang berbaris rapi. Dalam angka-angka itu, Pak, saya tak bisa lagi menemukan rasa terenyuh meskipun saya paksa. Setinggi apapun angka kemiskinan yang saya lihat, itu cuma sekedar angka. Dibalik angka itu mungkin terkubur ribuan atau bahkan jutaan kisah-kisah orang seperti Bapak. Namun sekali lagi saya tak bisa melihatnya, Pak. Saya telah Buta!

Mungkin benar kata Stalin, Pak,

A single death is a tragedy; a million deaths is a statistic.

Maka izinkanlah Pak, Bapak penjual tempat cucian kotor dari anyaman bambu yang namanya tidak saya kenal, izinkan saya untuk tak berhenti melamunkan Bapak.

1 Comment

Filed under Uncategorized

Tidak selesai

Siapa sangka tetesan hujan bisa menjadi begitu meneduhkan, dan senja seakan menyayat hati ? Tentu tak lain ialah dengan sebab makna yang kita lekatkan padanya. Dan pada kehidupan kita pula, pada alur yang kita titi, pada keluarga, kawan, bahkan orang yang kita benci. Semua ada karena makna yang terberi.

Tidak seperti batu atau air, manusia dikaruniai kemampuan untuk menentukan kisahnya sendiri. Meskipun tak ada kepastian apakah ia nyata atau ilusi, toh hal tersebut tetap menjadi prinsip yang diyakini kebanyakan orang hingga mati. Batu dan air adalah kata-kata yang tersedia. Manusia lalu merangkainya menurut yang ia kehendaki, menjadi kalimat-kalimat padu dan menjadi cerita-cerita. Pada cerita itu ia letakkan batu dan air menjadi latar atau bahkan malah pemeran utama.

Di antara batu dan air itu terdapat manusia-manusia lain pula. Dan tiap-tiap manusia membuat cerita masing-masing. Dalam cerita satu manusia, hampir selalu ia sertakan manusia lainnya melalui cara yang berbeda-beda. Kalau diibaratkan benang mungkin cerita itu saling berjalinan, berpilin, bersimpul membentuk jaring-jaring yang di satu sisi menampilkan pola yang indah, namun di sisi lain hanya gumpalan benang kusut dan ruwet.

Pada jaring-jaring inilah bersemayam apa yang disebut dengan sejarah. Jejaring besar yang mudah diamati dengan mata telanjang. Demikian mudah untuk ia yang dapat melihat jaring-jaring itu secara penuh, namun butuh kepayahan bagi benang-benang itu sendiri untuk memahaminya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tinggi orang Indonesia

Saya punya tubuh yang minimalis, dan itu menyebabkan saya penasaran seberapa minimaliskah saya secara relatif jika dibandingkan yang lain. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya yakin tinggi badan saya di bawah rata-rata (orang Indonesia), namun ketika melihat data di wikipedia, rata-rata tinggi orang Indonesia untuk laki-laki adalah 158 cm dan perempuan 147 cm. Berdasar data tersebut, tinggi saya tepat ada di rata-rata.

Namun, kebenaran yang pahit itu bagi saya lebih baik daripada kesahalah yang indah lagi menenangkan. Hahaha. Saya tidak boleh senang dulu. Memang, setelah saya cek, ada setidaknya 2 hal yang menyebabkan informasi tersebut tidak relevan bagi saya. Pertama, ternyata untuk data Indonesia, rentang usia yang dijadikan sampel adalah 50 tahun ke atas. Kedua, data tersebut berasal dari IFLS 2 yang dilakukan tahun 1997. Bisa jadi, generasi lebih muda cendererung lebih tinggi. Oleh sebab itu saya mencoba menggunakan data IFLS terbaru (IFLS 5) yang dilaksanakan pada akhir 2014 hingga awal 2015. Berikut hasilnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized