Mending Ngasih Hadiah Uang atau Barang ? Mainstream vs Behavioral Economics

Beberapa waktu yang lalu, kakak tingkat saya melakukan sebuah penelitian menarik dalam rangka tugas kuliahnya. Penelitian tersebut menemukan bahwa secara umum hadiah ulang tahun yang diterima oleh anak-anak di fakultas kami merupakan sebuah hal yang tidak efisien. Mengapa? Sebab hadiah-hadiah tersebut dinilai oleh mereka jauh lebih rendah daripada harga belinya. Continue reading

Advertisements

2 Comments

Filed under Uncategorized

Lingkaran kecil

Setiap orang punya lingkaran kecil : kumpulan orang-orang yang berpengaruh terhadap dirimu dan menjadi pusat perhatianmu. Lingkaran ini tidak terbatas pada orang-orang yang benar-benar berinteraksi secara fisik denganmu, apalagi di zaman sekarang. Seiring berjalannya waktu, bagian dari lingkaran kecil mungkin saja hilang atau berganti. Bagian lingkaran yang dahulu lepas bisa jadi bergabung kembali karena suatu hal.

Lingkaran kecil begitu penting bagimu, karena tanpa lingkaran ini engkau akan menjadi seperti bola yang melayang-layang di angkasa tanpa memiliki tambatan objek yang harus kau kitari. Lingkaran kecil memberi arah dan membentuk perilakumu, bahkan memberikanmu makna dalam melakukan sesuatu. Pemahaman atas tindakanmu yang seolah acak dan aneh dapat dimengerti dengan mengenal lingkaran ini.

Bagian dari lingkaran kecilmu bisa jadi saling lepas terhadap dirimu, yaitu ketika ia tidak menjadikanmu sebagai lingkaran kecilnya. Ketika kamu sama sekali tidak menjadi lingkaran kecil bagi seorangpun, patut ditanya apakah kau perlu sedikit hiburan.

Engkau kadang merasa terganggu ketika dirimu dijadikan lingkaran kecil secara berlebihan oleh orang lain, sementara kamu sendiri tidak ingin menjadikannya sebagai bagian dari lingkaran kecilmu. Inilah peristiwa yang membuat dunia menjadi penuh dengan air mata yang menurutku seharusnya tak perlu diteteskan.

Sebaliknya, ketika engkau dan orang lain saling menjadi lingkaran kecil satu sama lain, seketika terasa bahwa lingkaran kecilmu hanya dibentuk olehnya.

Dalam lautan lingkaran kecil yang terus-menerus lepas dan berkait ini, kadang kau perlu sesekali bertanya : apakah yang ada di luar lingkaran kecilmu ?

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bagaimana Beban Pajak Dialihkan ?

Pembahasan mengenai pengalihan beban pajak mungkin sudah dibahas sejak kita duduk di bangku SMA. Biasanya analisis dibantu dengan grafik semacam ini :

tax-on-cigarettes

gambar dipinjam dari sini

Grafik memang mempermudah analisis namun memandangi grafik tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dibalik kumpulan garis-garis itu bisa menyebabkan kebingungan yang akut bahkan bagi seorang mahasiswa Ilmu Ekonomi :p. Berangkat dari keprihatinan tersebut, mari kita buat penjelasan yang mudah atas hal ini.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tidak Realistis!

Beberapa waktu lalu salah seorang teman saya curhat kepada saya mengenai rasa galaunya terhadap ilmu ekonomi. Katanya, selain ia susah memahami model dan teori ekonomi, ia juga menganggapnya tidak realistis. Saya yang agak kelabakan menghadapi curhatan teman saya itu berusaha menghiburnya bahwa sampai tahap ini (semester 3) kita memang masih berkutat di ranah teori, baru di semester depan kita mulai belajar “realitas” ekonomi melalui matakuliah ekonometrika. FYI, ekonometrika secara gampangnya adalah ilmu yang berkaitan dengan “mengukur” besaran-besaran atau variabel ekonomi di dunia nyata. Ilmu ini bisa dibilang merupakan ramuan antara teori ekonomika, matematika, dan statistika. Mendengar jawaban saya itu, sepertinya teman saya bukannya terhibur tetapi malah makin masam wajahnya. Waduh! Saya sepertinya salah memilih jawaban. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized

(wrong) conclusion

A : Duh, Mas, kacau !
B : Kenapa, Dek?
A : Aku selama ini salah ambil kesimpulan.
B : Nah. Baru tahu rasa kan kamu.
A : Ya gimana lagi.
B : Kan Mas udah bilang, kamu jangan berteori sebelum data kamu cukup. Apalagi kamu ini terlalu subjektif. Katanya kamu mau jadi ekonom? Kalau seperti ini aja kamu salah, gimana kamu mau meneliti hal-hal yang lebih penting?
A : Tapi kan Mas,..
B : Tapi apa?
A : Keynes aja pernah bilang : “When the facts change, I change my mind”. Ekonom sebesar Keynes aja plin-plan kan mas?
B : Itu bukan plin-plan, Dek. Plin-plan itu kalau faktanya sama tapi kamu berubah-ubah pikiran.
A : Terserah lah Mas.
B : Lho kok terserah, piye sih? Gini Dek, aku bilangin lagi ya. Satu, kamu jangan terburu-buru ambil kesimpulan. Perhatikan fakta secara lebih hati-hati. Dua, jangan cherry picking. Kamu tahu kan maksudnya apa. Jangan cuma ambil fakta yang kamu anggap mendukung anggapan awal kamu. Ilmuwan harus jujur dan objektif, Dek. Kamu suka baca Sherlock Holmes kan? Dia pernah bilang “It is a capital mistake to theorize before one has data. Insensibly one begins to twist facts to suit theories, instead of theories to suit facts”. Kebaperan kamu itu yang sebenarnya menyebabkan kamu jadi gegabah dan terlalu dini mengambil kesimpulan.
A : Hmmm, oke lah Mas. Terus sekarang aku harus gimana?
B : Kan kamu pernah bilang sendiri, semua yang berlalu biarkanlah berlalu. Kamu sendiri lho yang bilang. Nah, biar kamu nggak omdo, kamu lakukan itu juga.
A : Sip lah Mas. Kalau gitu aku pamit dulu.
B : Lho, mau ke mana?
A : Mau pulang.
B : Pulang ke mana, Dek? Kita ini kan cuma konstruksi imajiner yang ada di kepalanya orang yang nulis ini.
A : …

***

Yah, setidaknya ini bisa jadi pelajaran buat saya.

 

Leave a comment

29 September 2016 · 5:11 pm