Mengapa perusahaan tetap berproduksi ketika mendapatkan laba normal?

Ketika melakukan analisis mengenai perilaku produsen dalam pasar persaingan sempurna, dikatakan bahwa dalam jangka panjang perusahaan hanya akan mendapatkan laba normal alias tidak untung dan tidak rugi. Pernahkah terbersit di pikiran kita, “Mengapa perusahaan tetap mau berproduksi walaupun tidak mendapatkan untung?” Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Megatruh

Abot rasa mikir mikul urip ingsun
Kuciwa mring aku iki
Wis cepak tandha matiku
Manungsa sing tanpa aji
Tilas rereged kang asor

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Dalam Tenang

dalam tenang itu bersemayam risau yang padam
mendingin bersama malam yang berlalu saja
tak sudi ia sepertinya menoleh pada kita
pada tangkai-tangkai kering yang berserak di rimbanya

detik jam kini tak pernah mengusik tidur
karena waktu sudah membebaskan kita dari jeratnya
meninggalkan kita yang ada namun tiada
menyatu semesta, menyatu semesta

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Baca

lembaran kertas yang tak lagi putih
ditatap nanar tanpa ampun
menjamahnya, kata demi kata
hanya untuk mencari
makna

(5 Agustus 2016)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

entahlah judulnya apa

Ada dilema antara lingkungan aktivis Islam kanan di satu sisi, dan aktivis liberal atau progresif kiri di sisi yang lain. Yang pertama memiliki lingkungan yang menyejukkan, persaudaraan (“ukhuwah”) sangat kuat, serta suportif, tapi kadang menggangu kebebasan nalar dan naluri kemanusiaan. Yang kedua sangat merangsang kebebasan berpikir tapi dengan lingkungan yang saking bebas dan kerasnya membuat jadi tidak nyaman (setidaknya menurut standar saya). Tau sendiri kan, okelah ini tidak bisa digeneralisasi, tapi saya tanya begini, ini dari amatan sekilas saya : di kampus saya (silakan tebak sendiri), antara anak-anak pers progresif (yang kemarin bikin heboh dengan keberaniannya mengangkat isu pelecehan seksual itu) dan anak-anak badan eksekutif (yang sekarang sedang dikuasai rezim ikhwan), mana yang lebih berpeluang merokok, minum anggur merah, dan tidur kelonan berdua? Lalu mana juga yang lebih berpeluang menganggap orang homoseksual itu makhluk kelas dua? Halah ayolah tidak usah naif. Semua orang tahu.

Dari segi intoleransi pikiran, pun kadang dua geng ini sama saja. Kubu kanan (oke, oke saya tambahi, oknum kubu kanan) menganggap ateisme menjijikkan, sedang kubu satunya menganggap anak ateis lebih elit secara pemikiran dibanding yang lain. Ayolah akui saja lagi, pada akhirnya kita itu dimakan stereotype kan.

Mungkinkah ada bentuk aktivisme yang memadukan “akhlak” a la kubu kanan dengan kebebasan berpikir a la kubu kiri? (Kok saya jadi kebayang orang-orang Nahdliyin progresif ya, hehe).

 

Leave a comment

Filed under Uncategorized